Sabtu, 25 September 2010

Seks, Cinta dan Jakarta

Oleh A.A. Ariwibowo

Sepasang calon pengantin mengajukan pertanyaan seksi kepada konselor perkawinan, apa hubungan antara seks yang menggairahkan, cinta yang menggelegak, dan infrastruktur Jakarta yang mengenaskan para pemukimnya?

Konselor itu menjawab, ingatlah bahwa seks dimulai dari otak, sementara cinta diasalkan dari suasana romantis.

Baik seks maupun cinta memerlukan dukungan infrastruktur, yakni ruangan hangat, pencahayaan gemerlap, dan ruangan harum semerbak. Seks, cinta, dan Jakarta mengacu kepada satu kata: yahud!

Pasangan calon pengantin dapat membaca buku yahud tulisan Joel D. Block, PhD berjudul "Secrets of Better Sex" yang mengutarakan bahwa seks bukan sekedar hubungan badan antara pria dan badan wanita. Seks mengaitkan seluruh tubuh pria dan tubuh wanita.

Implikasinya, persetubuhan dan bukan persebadanan, menyiratkan makna saling melengkapi antara pria dan wanita. Ada kesetaraan.

Seks, cinta dan Jakarta, bukan semata-mata menyoal perlawanan antara pria dan wanita, membicarakan rakyat jelata Metropolitan melawan pejabat pemda Jakarta, mengkritik buruh melawan pemilik modal, menggugat petani versus tengkulak.

Seks, cinta dan Jakarta mengerucut kepada tesis bahwa semua soal ketidaksetaraan bersumber dari persoalan cinta dan seks.

Bukankah pertanyaan seputar sengkarut layanan publik Jakarta memperoleh jawaban klasik, "semua persoalan terpulang kepada manusianya"? Jawaban itu mengarah kepada generalisasi.

Maksudnya, apa yang beberapa kali terjadi dalam kondisi tertentu, dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi. Dua kali seorang pria menyatakan "Aku cinta padamu" kepada buah hatinya, apakah kali ketiga ia akan mendeklarasikan kata-kata yang sama? Belum tentu.

Alasannya, simpulan "Aku cinta padamu" memuat harapan. Simpulan "Aku bergairah bersama dirimu" membubuhkan kepercayaan. Dengan kata lain, konklusi dua penalaran itu tidak mengandung nilai kebenaran pasti, karena hanya memuat peluang atau memampang kemungkinan belaka.

Meminjam artikulasi bahasa sehari-hari ketika seorang pria mendapat perhatian dari seorang wanita, "Jangan dulu gede rasa".

Ketika merekatkan seks, cinta, dan Jakarta, maka ada tiga gugatan yang menggiurkan rasa ingin tahu. Kalau kekuasaan pada hakekatnya adalah "hidup bersama orang lain" (the living together of people), maka pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur kota tampil sebagai syarat niscaya kekuasaan.

Kalau salah satu tugas lembaga pemerintahan, salah satunya memudahkan setiap warganya untuk menjalin komunikasi, maka kerusakan yang memilukan dari infrastruktur Jakarta mencerminkan ketiadaan legitimasi kekuasaan.

Kalau lembaga pemerintahan membiarkan ketidakberesan terus berlanjut, maka yang ada bukan lagi lembaga politik, tetapi lembaga yang mendominasi warganya.

Ujung-ujungnya kekuasaan dijalankan sebagai pemaksaan. Kekuasaan diterapkan sebagai tirani. Menurut filsuf Hannah Arendt, kekuasaan adalah apa yang menjaga ruang publik tetap ada. Kekuasaan hanya ada dalam perwujudannya. Kekuasaan dapat dipahami sebagai solidaritas politis para warga yang mempedulikan persoalan bersama.

Apakah bukan kesewenangan bahkan cenderung "tiran", apabila dalam sepekan, dua prasarana infrastruktur Jakarta nyatanya rusak, yaitu ambrolnya Jalan RE Martadinata sepanjang 100 meter, dan jebolnya tanggul penahan air banjir kanal barat (BKB) sepanjang 115 meter di Setiabudi Jakarta Selatan?

Apakah bukan peniadaan kesetaraan bila banjir diprediksi kembali menggenangi Jakarta akhir tahun 2010?. Ini didasari penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geografi (BMKG). Dua "apakah" itu dijawab Gubernur DKI, Fauzi Bowo dengan optimisme yang lahir dari rahim kebenaran dan kecintaan untuk "hidup bersama orang lain."

"Saya dilahirkan bukan sebagai orang yang pesimistis. Kami ditunjuk oleh rakyat Jakarta, karena itu berkewajiban untuk mencegah peristiwa itu terjadi," katanya di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (20/9).

Pemprov DKI mengantisipasi banjir dengan mengeruk sungai sejak tahun 2008-2009. Sebanyak 72 segmen kali yang kondisinya kritis berhasil dikeruk. Pada 2010, Pemprov DKI meneruskan program pengerukan terhadap enam segmen sungai di lima wilayah ibu kota.

Ini merupakan program unggulan dengan anggaran yang disediakan sekitar Rp20 miliar dari APBD DKI 2010. Ditargetkan pengerukan enam sungai dapat rampung akhir tahun 2010.

Jika program itu rampung, maka sudah 78 segmen sungai di lima wilayah DKI Jakarta yang dikeruk. Program ini bertujuan menampung aliran air hujan dan mengurangi dampak banjir di ibu kota.

Keenam segmen sungai yang saat ini dikeruk Dinas Pekerjaan Umum DKI pada 2010 ini terletak di Kali Grogol, Kali Ciliwung, Kali Penghubung Rawa Kerbau, Kali Penghubung Kesehatan, Saluran Serdang, dan Kali Krukut Bawah. Oke juga.

Ketika merespons ambrolnya jalan Martadinata, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, "Harus dicari solusi secepatnya bersifat `extraordinary` untuk mengejar ketinggalan dan melemahnya daya saing industri nasional akibat buruknya insfrastruktur jalan," katanya seperti dikutip dari sebuah harian ekonomi nasional.

Dengan begitu, tesis bahwa kekuasaan intinya hidup bersama orang lain - ketika dikonfrontasikan dengan kerusakan infrastruktur Jakarta - dimaknai secara baru sebagai "tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan-pendekatan konvensional".

Yang luar biasa, pada kenyataannya, rakyat Indonesia masih miskin. Pendapatan satu dolar AS (kurang dari Rp9.000) per hari tidak mencukupi untuk memenuhi keburuhan sehari-hari. Inilah tirani baru dari kenyataan bagi rakyat.

Menurut Arendt, tirani merupakan bentuk pemerintahan yang mengombinasikan pemaksaan (force) dan ketidakkuasaan atau ketidakberdayaan (powerlessness). Tirani bertentangan dengan kondisi kemajemukan manusia.

Tirani menyebabkan impotensi kekuasaan. kalau aktivitas pemerintahan merupakan manifestasi kekuasaan, maka tiran merupakan penggerogotan kekuasaan dan penebaran benih kebencian bagi dirinya sendiri.

Apakah bukan tiran, bila halte transjakarta Koridor X yang belum dipakai sudah dalam kondisi memprihatinkan karena berbagai infrastrukturnya dirusak, dicuri bahkan dipreteli bagian-bagiannya yang dianggap oleh (para tiran) bernilai ekonomi?

Agar tidak dilabel sebagai tiran seks, tiran cinta dan tiran Jakarta, maka milikilah fantasi. Fantasi seks, fantasi cinta dan fantasi mengenai pembenahan infrastruktur Jakarta.

Alasannya, setiap orang punya `guilty pleasure`, sesuatu yang sangat Anda senangi, namun sebenarnya membuat Anda merasa bersalah saat menikmatinya, sebagaimana dikutip dari laman sebuah harian nasional.

Mengapa? Karena sesuatu yang Anda nikmati itu kadang-kadang bukanlah sesuatu yang baik. Misalnya, menghabiskan waktu senggang untuk tidur, mengonsumsi mi instan, nongkrong bareng teman, menikmati kopi pagi hari, dan pijat.

Sebuah studi pada tahun 2008 menunjukkan, para wanita mengaku bahwa dengan sesi pijat bersama pasangan sebanyak dua kali dalam seminggu dapat mengurangi rasa sakit, depresi, kegelisahan, dan rasa marah.

Dan sepasang calon pengantin mengamini bahwa inilah keajaiban dari cinta dan seks. Ini jauh dari tiran bernama infrastruktur Jakarta.

Tidak ada komentar: