Minggu, 02 September 2012

Susah Pahami Matematika Bisa Disebabkan Koneksi Otak Kurang Lancar

Jakarta, Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa di sekolah. Ada siswa yang merasa tertantang dan kemudian tertarik mempelajarinya, ada juga yang merasa putus asa karena sulit memahami. Ternyata, kesulitan mempelajari matematika bisa disebabkan komunikasi otak yang kurang lancar.

Pemecahan persoalan matematika membutuhkan komunikasi 2 arah antara kedua belahan otak secara tepat. Ada beberapa daerah di otak yang bertanggung jawab menyelesaikan soal matematika. Korteks parietal berada di bagian tengah atas otak dan penting untuk memproses data angka.

Sedangkan area parietalis kanan penting untuk proses penghitungan dasar, misalnya menebak berapa banyak kelereng yang ada dalam botol. Area parietal kiri lebih terlibat dalam operasi yang membutuhkan ketepatan, misalnya penambahan dan pengurangan.

Para ilmuwan sebelumnya memang telah mengetahui fungsi tiap-tiap daerah otak ini, tapi belum dapat menentukan apakah daerah-daerah ini dapat bekerja sama. Maka dari itu, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cerebral Cortex ini berusaha untuk mencari tahu.

Para peneliti dari Duke University, University of Texas dan University of Michigan menggunakan scan otak fMRI untuk mengukur aktivitas otak dari 27 orang dewasa muda sehat sambil menyelesaikan soal numerik dan aritmatika dasar.

Salah satu tugasnya adalah meminta responden untuk mencari perbedaan dan persamaan dari 2 kelompok angka. Tugas lainnya adalah meminta peserta memecahkan soal penambahan dan pengurangan. Semua soal yang diberikan ini memang tergolong cukup mudah.

Para peneliti menemukan bahwa memecahkan soal aritmatika menyebabkan komunikasi daerah antar otak mengalami peningkatanan drastis dibandingkan menyelesaikan soal numerik. Peserta yang menunjukkan koneksi antar area otak paling kuat adalah yang paling cepat memecahkan soal pengurangan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pada orang yang kemampuan matematikanya rendah, koneksi antara area otaknya rusak atau kurang efisien.

"Jika ada hubungan sebab akibat ada, salah satu hal yang sangat menarik dari penelitian ini adalah adanya kemungkinan mengembangkan soal-soal untuk meningkatkan konektivitas parietal dan menguji apakah hal itu dapat meningkatkan kemampuan berhitung," kata peneliti, Joonkoo Park seperti dilansir Medical Daily, Jumat (31/8/2012).

Para peneliti juga menunjukkan bahwa program penguatan koneksi otak seperti itu mungkin dapat bermanfaat bagi anak-anak serta orang dewasa yang memiliki gangguan kognitif. Tapi bisa jadi manfaatnya hanya untuk orang-orang yang memiliki kesulitan dalam matematika.

Tidak ada komentar: