Selasa, 06 Oktober 2009

Parahnya Listrik di Sulsel

MAKASSAR– Pemadaman listrik di Sulsel makin tidak terkendali. Intensitasnya bahkan sudah mencapai empat jam dalam sehari atau naik 100% dari sebelumnya yang hanya dua jam.

Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu kelangsungan sektor industri di Makassar dan sekitarnya.Apalagi,pemadaman yang tidak didahului dengan pemberitahuan,bisa menimbulkan kerugian material bagi pelaku industri jika berlangsung lama. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel La Tunreng bahkan memprediksi, akibat pemadaman listrik akan mendorong biaya produksi meningkat karena pelaku industri menggunakan genset dalam mengoperasionalkan usahanya.

”Selisih harga antara menggunakan genset dan aliran listrik dari PLN cukup jauh berbeda. Sehingga jika pemadaman terus berlangsung dikhawatirkan pertumbuhan industri dan ekonomi akan terganggu secara signifikan, seperti investor menarik inevstasinya dari Sulsel,” kata La Tunreng kemarin

Olehnya itu, menurut La Tunreng, masalah ketersediaan pasokan listrik ini mestinya juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah, baik Pemprov Sulsel maupun Pemkot Makassar. ”Pemerintah mestinya menjamin dan mengambil peran penting dalam pengembangan sumber pembangkit listrik,termasuk menjaga ketersediaannya agar iklim invenstasi tetap kondusif,”ujar La Tunreng.

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang yang dikonfirmasi terpisah mengakui, kondisi kelistrikan Sulsel saat ini memang sangat parah. Namun,diharapkan pada 2010 mendatang, Sulsel sudah bebas dari krisis listrik.

”Kami memahami keluhan masyarakat dan dunia usaha. Untuk itu, segera saya akan cek ke PLN, apa sebenarnya yang terjadi di sana.Saya kira semua harus dijelaskan secara transparan tentang kondisi ini,”kata Agus. Mantan Ketua DPRD Sulsel ini menambahkan, hingga kemarin, pihak PLN belum melaporkan kondisi kelistrikan di Sulsel. ”Tapi, besok (hari ini), saya akan cek. Sebab memang perlu kita tahu tentang kondisi pembangkit di Bakaru dan pembangkitpembangkit lainnya,” katanya.

Hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan

Asisten Manager Hukum dan Komunikasi PT PLN Wilayah Sulawesi Selatan,Barat dan Tenggara (Sultan Batara) M Yamin Loleh mengatakan, pemadaman bergilir untuk wilayah Sulselbar hingga waktu yang belum ditentukan.

Pemadaman bergilir dilakukan karena terdapat kerusakan pada tiga pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) Tello dengan kapasitas 70 MW mengalami kerusakan, disamping tidak maksimalnya produksi listrik PLTA Bakaru. ”Olehnya itu,khusus untuk kalangan industri selama kondisi kelistrikan belum stabil diharapkan bisa memaksimalkan pemanfaatan genset,”jelas Yamin Loleh di Makassar,kemarin.

Sebelumnya, General Manager (GM) PT PLN Wilayah Sultan Batara Arifuddin Nurdin mengatakan, kapasitas produksi listrik PLTA Bakaru dengan beban sebesar 120 megawatt jika beroperasi secara maksimal mampu menghasilkan 110 megawatt. Namun, dengan dua buah turbin yang ada tingkat produksi saat ini hanya sebesar 30 megawatt. Hal ini disebabkan, kondisi debit air Bakaru yang selama ini menyuplai kebutuhan air PLTA Bakaru berada pada titik terendah.

”Kondisi debit air bakaru yang ada sekarang hanya mencapai 18 meter kubik, dari kondisi ideal antara 40 meter kubik sampai 45 meter kubik, maka pemadaman listrik harus dilakukan,”kata Arifuddin Nurdin beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Arifuddin menjelaskan, kondisi debit air yang sangat rendah hanya mampu menggerakkan satu turbin dari dua turbin yang ada di PLTA Bakaru,sehingga pada waktu-waktu tertentu, pihak PLN hanya mengoperasikan satu turbin, sedang turbin lainnya menampung air agar dapat dimaksimalkan pada waktu-waktu beban puncak (WBP).

Dengan beban puncak mencapai 470 megawatt, setiap hari wilayah Sulselbar kekurangan daya sekitar 60 megawatt, dengan kondisi tersebut menurut Arifuddin, pemadaman secara bergilir harus dilakukan, untuk menghindari terjadinya black out atau pemadaman total. ”Kekurangan kapasitas 60 megawatt menyebakan terjadinya under frekuensi, maka pihak PLN wilayah Sultan Batara terpaksa melakukan pelepasan daya. Dengan komitmen setiap wilayah hanya padam selama 2 jam,”kata Arifuddin Nurdin.

Antisipasi Hari Pencoblosan

Sementara itu, mengantisipasi hari pencoblosan pada pemilu kepala daerah di enam kabupaten dan kota di Sulsel, PLN sudah mengantisipasinya dengan menyiapkan genset. Khususnya di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). ”Antisipasi genset ini sudah diputuskan dalam rapat hari ini (kemarin, red),”kata Asisten Manager Hukum dan Komunikasi PT (Persero) PLN Wilayah Sultan Batara M Yamin Loleh.

Bantuan genset tersebut, menurut Yamin, karena PLN tidak dapat memberikan jaminan sambungan listrik tidak akan padam di hari pencoblosan, yakni 28 Oktober untuk Jeneponto dan 29 Oktober untuk Kota Makassar, Sidrap,Wajo, Luwu, dan Pinrang.

”Disiapkannya genset oleh PLN merupakan langkah internal PLN untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman, karena rendahnya tingkat produksi listrik utamanya disaat beban puncak,”kata Yamin, kemarin. (SINDO)

1 komentar:

Pasang Iklan mengatakan...

wah wah wah...
makin kacau saja nih...
krisis listrik telah meraja lela..
kini pemadaman listrik terjadi di beberapa daerah.
ini tentu saja merugikan banyak pihak.

pemadaman ini diakibatkan karena konsumen pemakai listrik terus meningkat.
sedangkan pasokannya belum memenuhi.

pemadaman ini juga terjadi karena PLN menderita kerugian besar.
dimana tindakan pencurian listrik sudah merajalela
sehingga tidak terkonrol lagi pemakaian listriknya.
sehingga PLN tidak dapat mendistribusikan pasokan kedaerah2 yang terkena pemadaman bergilir.

semoga saja pemadaman ini bisa segera diselesaikan.
semoga saja perawatan serta penambahan genset oleh PLN pada induk2 pusat bisa selesai secepatnya.

Iklan