Rabu, 20 Januari 2010

Tumor Nek Hamidah Cuma Diobati Kunyit



Satu pelajaran hidup lagi......, selamat menyimak

Derita yang dialami Nek Hamidah Abdullah (65) di Gampong Jimjiem, Kemukiman Jalan Rata, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, begitu lengkap. Selain sakit tumor yang hampir sebesar buah kelapa di bahu kanannya, mata Nek Hamidah juga sudah tidak berfungsi lagi. Kondisi itu diperparah lagi oleh kondisi ekonominya yang didera kemiskinan.

Mengunjungi tempat tinggalnya di pedalaman Lueng Putu, wartawan Serambi Indonesia bersama seorang pegawai Puskesmas Bandar Baru harus menempuh sekitar 9 kilometer perjalanan. Di sana, Nek Hamidah menumpang di rumah keponakannya, Ibrahim Puteh, yang juga tergolong miskin. Suami Nek Hamidah telah meninggal dunia 21 tahun silam, sedangkan dia tidak mempunyai anak seorang pun.

Saat ditanyai tentang kondisinya, Nek Hamidah mengaku bahwa tumor yang diderita di bahu kanannya sudah berlangsung hampir 15 tahun. Awalnya, sakitnya hanya seperti benjolan kecil di leher. Setelah disuntik oleh seorang mantri gampong, benjolan itu membesar dan turun ke bahu kanan. Setelah itu, benjolan itu terus membesar hingga kini sudah sebesar buah kelapa.

Selama 10 tahun terakhir, Nek Hamidah saban hari merasakan sakit yang tak tertahankan di bahu kanan hingga terasa di seluruh tubuhnya. Dia juga sering merasa kesakitan saat tumornya tersentuh oleh tangan, termasuk dengan pakaiannya sendiri. Tengah benjolan tumor itu terlihat sering mengeluarkan banyak darah.

“Sekali keluar darah, banyaknya sampai sebotol Aqua (air mineral ukuran 600 ml). Karena tidak ada obat, biasa kami tempelkan kunyit yang sudah ditumbuk agar darahnya berhenti dan dagingnya bisa mati rasa. Tapi, dia tetap merasa sakit setiap saat,” ujar Jamilah, istri keponakannya.

Meski begitu, dia tidak pernah berobat ke rumah sakit. Bahkan, ia tidak pernah mengenal adanya kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), apalagi program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang diprakarsai Pemerintah Aceh. “Kiban tajak u rumoh saket, neuk. Peng mantong hana meusineuk (Bagaimana mau pergi ke rumah sakit, nak. Uang saja tidak ada sedikit pun),” ujar dia.

Hingga kini, Nek Hamidah tidak pernah berpikir akan bisa berobat untuk sakit yang dideritanya. “Hom hai, menyo na ureung yang tem bantu peu ubat lon, Alhamdulillah that. (Entahlah, kalau ada orang yang mau bantu obati saya, saya sangat Alhamdulillah),” demikian ungkap Nek Hamidah. (m syukur hasbi)

Tidak ada komentar: