Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Sekelumit Tentang Kisah Godaan Istri untuk tinggalkan suami

Sekelumit Tentang Kisah Godaan Istri untuk tinggalkan suami

00.56 0
Percakapan yang memusingkan, membuat hati Nisa geram. ”Rasanya kesal, ingin pergi dan melarikan diri dan tidak mau berjumpa lagi dengan mereka semua, kawan-kawan yang hanya suka arisan dengan dalih pengajian, membosankan, bukan menambah iman malah menambah persoalan,” geram Nisa dalam hati.

Suara-suara yang berisik yang semakin sering terdengar membuat Nisa geram, pusing dan kesal. Bahkan terkadang percakapan itu dilanjutkan dengan dering telepon, sms yang masuk dan ting tang ting tung bunyi blackberry, membahas kelanjutan percakapan yang sama dan hal ini semakin membuat Nisa semakin menderita.

“Sudah Nisa, cari saja suami yang lain, apakah kamu tidak melihat banyak lelaki yang sekarang ingin punya istri baik-baik, solehah, pakai kerudung kayak kamu..” sergah Rani dengan sangat semangat. “Kamu tuh masih sangat cantik Nisaa.., dengan suami yang kerjanya gak jelas, sakit-sakitan pula, apalagi sih yang kamu cari, suami bukannya menguntungkan malah menyusahkan istri,” bu Aisyah yang berwajah manis walau sudah mulai berumur menegaskan kembali pernyataan kawan-kawan Nisa dipengajian Al Hidayah tersebut.

Serentak masalah Nisa menjadi masalah orang banyak. Dengan wajah dan suara penuh simpati dari sepuluh anggota pengajian yang rutin Nisa datangi setiap minggu, bergantian memberikan saran dan banyak sekali masukan yang intinya satu, tinggalkan sang suami dan cari yang lain. Memangnya mudah apa mencari suami baru, kok rasanya seperti mengganti sepatu baru.

Lagipula Nisa ingat, dahulu Nisa lah yang dicari, bukan sang suami yang dipilih, namun suaminya yang sekarang entah mengapa menjadi sering sakit-sakitan, murung dan emosi tinggi terutama ketika gejala PHK menghujam tempat sang suami bekerja. Hal ini membuat Nisa menjadi semakin tidak bahagia dengan rumah tangga yang baru diarungi selama setahun setengah.

Awalnya Nisa hanya bercerita kepada salah seorang kawannya saja. Hal ini dikarenakan sang ustadz dipengajian berganti-ganti maka tidak mungkin menceritakan masalah pribadi kepada sang ustadz.

Namun karena kawannya bingung musti menjawab apa kepada Nisa dan Nisa pun sering menangis di hadapan kawannya, maka sang kawan membawa masalah Nisa kepada kawan-kawannya yang lain, yang sayangnya solusi berdatangan dengan penuh perhatian, yang semuanya berlandaskan pada emosi dan pemikiran saja .

Bahkan dalam menjawab masalah Nisa seorang ustadz pun tidak memakai Al Quran dan Al Hadist dan semuanya merasa solusinya yang paling benar.

Pertanyaannya sekarang haruskah Nisa menceritakan permasalahannya kepada kawan yang tidak paham agama dan haruskah kondisi suaminya diceritakan pada orang lain. Bukankah suami baik atau buruk merupakan pakaian kita, yang harus kita jaga aibnya dan kita tutupi.

“..isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah [2] : 187)

Betapa akan tidak nyamannya Nisa bila kondisi keluarganya nantiya sudah membaik dimana suaminya sudah mendapatkan pekerjaan lain yang mungkin lebih baik serta kondisi keimanan sang suami sudah membaik, sehingga lebih mampu mengendalikan diri dan emosi serta suasana keluarganya sudah nyaman namun semua kawan-kawannya masih memandang suaminya Nisa dengan negatif. Dan yang lebih parah lagi bila Nisa mengikuti saran kawan-kawannya yang menganjurkan Nisa untuk mencari suami yang lain yang lebih baik.

“..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 216)

Sebaiknya memang semua permasalahan antara suami dan istri itu diketahui dan diselesaikan berdua saja atau dengan mencari orang terdekat saja yang bisa dipercaya dari kalangan keluarga dan memiliki pemahaman dan pondasi agama yang kuat.

Bukankah masalah memang ada untuk diselesaikan dalam rangka menguji keimanan, bukan untuk sekedar disebarluaskan. Wallahu'alam.
Sumber : eramuslim.com
KEKUATAN SEBUAH DOA III

KEKUATAN SEBUAH DOA III

05.02 0
Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan iapun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: "Ya Allah Ya Tuhanku Rabbi, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu." Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya ALLAH yang tahu bobot sebuah doa. Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa. Lalu, kirimkan cerita ini kepada setiap orang atau sahabat yang Anda kenal. Biarlah Tali silatuhrahmi ini tidak terputus,karena "DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna."
KEKUATAN SEBUAH DOA II

KEKUATAN SEBUAH DOA II

05.01 0
"Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut." Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk,meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat." Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.
KEKUATAN SEBUAH DOA I

KEKUATAN SEBUAH DOA I

04.58 0

Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. "Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang." Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit,

anda tidak mempunyai garansi," alasannya. Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata: "Saya akanbayar semua yang diperlukan Ibu ini." Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan

memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?" "Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

TATA CARA MASBUK SHALAT

TATA CARA MASBUK SHALAT

17.11 1
Mungkin anda pernah terlambat dalam shalat berjamaah, namun anda tidak tahu gimana caranya masbuk dalam shalat. Nah mungkin artikel ini bisa membantu anda. Silahkan menyimak dengan baik . Hal ini saya ambil di situs www.eramuslim.com.
1. Makmum Satu Orang
Bila jamaah shalat hanya terdiri dari seorang imam dan seorang makmum, maka posisi makmum di sebelah kanan imam. Namun lebih afdhalnya sedikit di belakang, untuk menghindari kemungkinan posisi makmum melewati posisi imam.
2. Makmum Kurang dari Satu Shaf
Posisi imam selalu berada di tengah shaf, meski sfah itu tidak penuh sampai ke dinding masjid. Yang benar bukan memenuhi dulu shaf kanan, tetapi mulai menambah barisan dari posisi yang kanan. Urutannya seperti pada gambar berikut:
Makmum yang datang pertama kali (M1) posisinya tepat di belakang imam. Makmum yang kedua (M2) mengambil tempat di sebelah kanan makmum pertama (M1). Makmum yang datang ketiga (M3), mengambil posisi di sebelah kiri makmum pertama (M1). Makmum yang datang keempat (M4), mengambil posisi di sebelah kanan makmum kedua (M2). Makmum yang datang ke lima (M5) mengambil posisi di sebelah kiri makmum ketiga (M3). Makmum yang datang ke enam (M6) mengambil posisi di sebelah kanan makmum ke empat (M4). Makmum yang datang ke tujuh (M7) mengambil tempat di samping kiri makmum ke lima (M5). Dan begitu seterusnya.
3. Sebelum bertakbir memulai shalat jamaah, imam meminta kepada makmum untuk merapatkan barisan dan meluruskannya. Baik dengan suara atau pun langsung meluruskan. Yang mana saja, yang penting imam yakin bahwa barisan di belakangnya lurus dan rapat.
4. Kami tidak menemukan dalil yang shahih dan tegas tentang adanya masbuk yang berubah jadi imam buat sesama masbuk juga. Sehingga kami memandang sebaiknya cara-cara demikian tidak usah dilakukan. Entahlah kalau ada yang punya dalil yang tegas tentang hal itu. Tolong sampaikan kepada kami.
5. Umumnya para ulama mengharuskan ketersambungan barisan dan tidak membolehkan dihalangi dengan tembok secara total.
Karena itu di beberapa masjid seperti di Masjid Al-Haram, jamaah yang ada di lantai 2 dan 3 tetap bisa melihat barisan jamaah yang di lantai 1 (dasar).
Demikian juga dengan jamaah yang ada di luar masjid, paling tidak para ulama mensyaratkan bahwa barisan yang paling depan dari jamah yang di luar masjid masih dapat melihat langsung barisan yang paling belakang yang ada di dalam masjid. Tentunya pintunya harus terbuka dan terlihat.
Adapun dengan menggunakan CCTV, pengeras suara dan sejenisnya, sementara tanpa alat itu memang terputus secara total hubungan antara yang di dalam masjid dengan yang di luar masjid, maka masih banyak para ulama yang beranggapan bahwa hal itu kurang memenuhi syarat untuk sebuah jamaah shalat.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,