Rabu, 11 November 2009

Internet Broadband akan Semakin Murah


meningkat pesatnya jumlah pelanggan mobile broadband, baik di lingkup global maupun di Indonesia, tarif berlangganan internet kecepatan tinggi akan semakin murah.

Menurut asosiasi GSM dunia (GSMA) lambat laun, tarif internet mobile broadband bisa turun separuhnya lebih. Hal itu dipicu dengan semakin tingginya penetrasi jaringan internet bergerak yang hingga semester I-2009 lalu, secara global diselenggarakan oleh 236 operator di 104 negara.

"Tingginya penetrasi mobile broadband merangsang turunnya modul HSPA (high speed packet access) hingga 50%. Dari US$ 70 menjadi sekitar US$ 35 dalam waktu 18 bulan," kata Senior Director of Services GSMA, Jaikishan Rajaraman, dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Senayan, Rabu (11/11/2009).

Dengan semakin turunnya harga perangkat jaringan dan semakin banyaknya jumlah pelanggan, GSMA memprediksi pada 2011 mendatang, tarif akan turun drastis. Hal ini bisa terlihat dari turunnya pendapatan operator dari tiap pelanggan atau ARPU (average revenue per user).

"ARPU rata-rata di industri juga akan menurun hingga 50% dari US$ 48 menjadi US$24. Dengan harga yang relatif lebih terjangkau, kemungkinan besar pada 2012, jumlah pelanggan mobile broadband dunia bisa terdongkrak menjadi satu miliar pengguna," ujar Rajaraman.

Prediksi penurunan tarif, lanjut dia, juga semakin diperkuat dengan tren turunnya biaya infrastruktur (network infrastructure cost) hingga 3-5% tiap tahunnya.

Khusus untuk Indonesia, GSMA memperkirakan pengguna layanan data internet bakal menembus angka 45 juta pelanggan pada 2013 mendatang, seiring dengan penurunan tarif dan kecepatan data yang lebih memadai melalui implementasi teknologi lanjutan dari generasi ketiga seluler 3G.

Teknologi itu melalui High Speed Packet Access Plus (HSPA+) dan Long Term Evolution (LTE) yang dikenal dengan julukan 4G. Kedua teknologi ini menawarkan kecepatan best effort 21 Mbps untuk 3G HSPA+ dan 100 Mbps untuk 4G LTE.

"Meskipun saat digunakan banyak orang secara bersamaan tak akan sampai segitu, namun tetap saja, kecepatannya lebih baik dari teknologi 3G sebelumnya," jelas dia.

Pengguna mobile broadband di Indonesia sendiri, saat ini diperkirakan GSMA hampir menyentuh dua juta pelanggan. Angka itu diperoleh dari operator seperti Telkomsel 1,3 juta, Indosat (IM2) 500 ribu, Excelcomindo Pratama (XL) 100 ribu, dan beberapa operator lainnya.

Rajaraman juga meyakinkan, dengan tumbuhnya penetrasi mobile broadband akan mampu merangsang pertumbuhan pendapatan bruto alias GDP (gross domestic product) di sebuah negara. "10% penetrasi broadband akan meningkatkan 1% pertumbuhan GDP."

"Secara direct dari industri ICT, investasi jaringan broadband akan memberi kontribusi untuk GDP. Selain itu, terdapat multiplier effects, artinya semakin tinggi investasi broadband akan merangsang tumbuhnya kontribusi dari penyedia konten, perangkat, dan lain-lain untuk GDP," pungkas dia.

( rou / ash )

Tidak ada komentar: