Minggu, 18 April 2010

JK Nilai Keberadaan Satpol PP Masih Dibutuhkan

Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) menilai keberadaan Satpol PP masih diperlukan di negeri ini. Sebab, masih banyak warga masyarakat yang bersikap tidak tertib dan menggangu ketertiban umum.

"Perlu diperbaiki, tidak perlu dibubarkan. Ini sama saja ada aparat pajak bermasalah, lalu pajak dibubarin, ya, nggak bisa begitu. Kalau tidak ada Satpol PP, nanti tidak ada yang menertibkan bangunan liar, PKL, akhirnya semua jadi semrawut," kata JK.

Hal ini dia sampaikan saat mengunjungi kegiatan donor darah yang digelar oleh Gereja Kristen Jawa, Nehenia, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (18/4/2010).

Meski merasa tidak perlu dilakukan pembubaran, JK meminta Satpol PP direposisi dan direformasi. Selain dari sisi psikologis dan pengetahuan, juga dalam tampilan luarnya seperti seragam dan cara penanganan.

"Topi yang baret itu diganti saja dengan yang biasa. Sepatu laras, diganti saja dengan yang biasa. Polisi saja sekarang sudah pakai sepatu biasa saja," paparnya.

JK juga merasa heran kenapa dalam peristiwa bentrokan di Tanjung Priok kemarin pakem kehidupan yang damai menjadi terbolak-balik. Hal ini harus segera diakhiri agar ancaman terhadap keamanan bangsa dan negara tidak terus mengintai.

"Masyarakat telah berubah luar biasa. Satpol PP yang tugasnya menetibkan, malah jadi tidak tertib. Majelis zikir yang harusnya berjiwa tenang dan menyejukkan, malah mengamuk. Ada apa ini? Ini bahaya yang dihadapi bangsa ini," tuturnya.

JK meminta media juga tidak ikut menjadikan suasana semakin panas dengan liputan-liputan yang tanpa sensor. "Untuk media juga perlu instropeksi diri. Jangan sampai siaran media justru menimbulkan konflik. Media yang harusnya menentramkan malah jadi mengeraskan. Tapi saya tidak sebut provokator lho," seloroh JK yang diikuti dengan tawa khasnya.

Mantan ketua umum Partai Golkar ini menilai kerusuhan di Tanjung Priok sebenarnya bisa dihindari jika dalam pelaksanaan kebijakan itu dilakukan komunikasi dengan baik. Sebab, antara berbagai pihak sebenarnya sudah terjadi kesepakatan.

"Kenapa kerusuhan menjadi keras dan menjadi menyebabkan korban? Tim PMI ini melihat ada hal miskomunikasi, semua pihak setuju tidak akan menggusur makam, kenapa di masyarakat kok muncul penggusuran, berarti ini ada miskomunikasi," tegas JK.

Syukurnya, lanjut JK, kerusuhan tersebut tidak berlanjut sampai ke beberapa tempat penyimpanan BBM di Tanjung Priok. "Kalau sampai ke tabung penyimpanan BBM itu, Jakarta bisa jadi neraka," paparnya.

(yid/irw)

Tidak ada komentar: