Jumat, 18 April 2008

Mengulang Shalat Karena Kurang Khusyu

Assalamu 'alaykum, ustadz

Jika kita sedang sholat dan berusaha untuk khusyu, tetapi masih saja kepikiran hal-hal lain (duniawi), sehingga sholat tersebut diulang-ulang kembali meski belum merasa khusyu juga,

Apakah hal tersebut diperbolehkan? Bagaimana caranya supaya sholat khusyu' sementara kita dikejar-kejar pekerjaan dan waktu yang sangat singkat (misal, sholat ashar pada waktu jam kerja)?

Jazakumullah..

Anna Nafsiah Aziz
bonny_pretty@yahoo.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mengejar kekhusyuan dalam shalat adalah perbuatan yang sangat mulia. Tentunya shalat yang lebih utama adalah shalat yang khusyu'. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran, bahwa ciri orang yang beriman adalah yang khusyu' ketika shalat.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Sayangnya, tidak pernah ada standar dari shalat khusyu' dari sisi ilmu fiqih dan hukum. Karena pada hakikatnya khusyu' itu sendiri adalah sebuah sikap hati, bukan sikap fisik atau ucapan. Sehingga apa yang terasa di dalam hati memang tidak ada ukurannya.

Namun yang kita sepakati adalah bahwa orang yang paling khusyu' shalatnya adalah Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun yang kekhusyuan shalatnya melebihi kekhusyuan beliau.

Dan kalau melihat tata cara shalat Rasulullah SAW, nampaknya kekhusyuan shalat beliau tidak seperti yang seringkali kita bayangkan. Kita sering membayangkan bahwa orang shalat yang khusyu' itu tidak mengingat apa-apa, terlepas dari dunia luar, keluar dari alam kesadaran, lupa segala-galanya, karena sibuk asyik masyuk berkhalwat dengan Allah SWT.

Namun ternyata gambaran yang kita terima dari shalat Rasulullah SAW tidak demikian. Kalau jadi imam dan mendengar ada bayi menangis pada shaf di belakangnya, beliau malah mempercepat shalatnya.

Kalau dibilang shalat khusyu' itu tidak ingat apa-apa dan terlepas dari dunia luar, apakah berarti shalat beliau tidak khusyu'?

Bahkan beliau memerintahkan kita yang sedang untuk mencegah bila ada orang lain mau lewat di depan kita. Kalau khusyu' adalah hanya mengingat Allah dan tidak tahu situasi di lapangan, maka apakah beliau tidak khusyu' dalam shalatnya?

Bahkan beliau SAW memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular atau kalajengking. Bayangkan, shalat sambil membunuh ular, apakah berarti beliau mengajarkan shalat yang tidak khusyu'.

Kalau nabi Muhammad SAW melakukan itu semua di dalam shalat, lalu kita katakan bahwa perbuatan itu menunjukkan ketidak-khusyuan, siapa lagi yang kita jadikan panutan dalam shalat?

Bukankah Rasulullah SAW adalah satu-satunya sumber petunjuk kita dalam melakukan beragam ibadah ritual, termasuk juga shalat?

Kesimpulan Para Ulama tentang Khusyu'

Para ulama ahli fiqh dalam semua kitab mereka telah mengklasifikasi tiap gerakan dan bacaan shalat. Ada yang merupakan rukun, ada yang merupakan wajib, sunnah dan lainnya.

Ternyata kalau kita perhatikan, meski tetap menjadi kesempurnaan shalat, nakum kekhusyuan tidak pernah menjadi rukun shalat, bahkan tidak juga menjadi kewajiban.

Yang menjadi rukun malah thuma'ninah, yaitu tenang. Dan tentu saja thuma'ninah bukan khusyu'. Lain thuma'ninah dan lain lagi khusyu'.

Maka seorang yang kebetulan ketika shalat tidak mengalami ciri khusyu', tapi memenuhi semua rukun dan wajib shalat, shalatnya tetap sah. Dan kalau sudah sah, tentu sudah gugur kewajiban untuk melakukan shalat.

Intinya kami ingin mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk mengulang shalat itu.

Walau pun juga perlu diketahui bahwa mengulang shalat wajib memang ada dalil yang membolehkannya. Namun penyebabnya bukan semata-mata karena keyakinan bahwa shalat yang pertama itu tidak syah.

Mengulangi shalat boleh dilakukan karena memang ada riwayat yang menyebtkan hal itu. Salah satu penyebabnya karena memang ingin mendapatkan pahala berjamaah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tidak ada komentar: