Selasa, 18 November 2008

Aburizal Mundur dari Pemerintahan

Dari Koran Fajar Terbitan 19 November 2008.

Saham Grup Bakrie Turun Tajam

JAKARTA –Pemimpin generasi kedua Grup Bakrie, Aburizal Bakrie, mengeluarkan pernyataan mengejutkan, justru di saat pundi-pundinya terus menyusut.
Ical, sapaan Aburizal yang kini menjabat menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat, menyatakan akan mundur dari pemerintahan setelah masa jabatannya berakhir tahun depan.

Orang terkaya se-Asia Tenggara versi majalah Forbes tersebut tetap akan melepas jabatan menteri, meski Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) terpilih lagi dalam pilpres April 2009.

"Saya akan mundur dari kabinet," tegas Ical sebagaimana dikutip dalam wawancara kepada situs majalah ekonomi bergengsi forbes.com. Wawancara itu dilakukan Jumat, 14 November, atau sehari sebelum perayaan ulang tahun ke-62 Ical, namun baru dirilis forbes.com Selasa, 18 November.

Dia mengaku pengunduran diri dari kursi menteri itu sudah mendapat izin dari SBY dan JK. "Saya sudah berbicara dengan Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla bahwa saya akan bekerja social, dan itu bukan di pemerintahan," ujarnya.

Ical masuk ke pemerintahan bersama gerbong Kabinet Indonesia Bersatu Presiden SBY lima tahun lalu. Namun, bencana lumpur di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang dipicu oleh pengeboran anak perusahaan Grup Bakrie, Lapindo Brantas Inc, pada 26 Mei 2004 membuat Ical selalu disorot.

Pria yang hobi tenis itu selalu dituding berada di belakang melempemnya sikap pemerintah terhadap Lapindo. Bahkan, kursi Ical di kabinet digoyang saat pembayaran ganti rugi kepada warga korban bencana tersendat-sendat.

Namun, SBY masih mempertahankan Ical di kabinet. Saat melakukan penggantian personel menteri (reshuffle) pada 2005, SBY tidak menghentikan Ical, meski tekanan masyarakat sangat kuat. Ical hanya bergeser posisi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra.

Penggantian itu sempat mengurangi sorotan terhadap Ical. Namun, sebulan terakhir, posisinya semakin sulit ketika saham anak-anak perusahaan Grup Bakrie terjerembap di bursa tersapu krisis global.

Ical kembali digunjingkan menggunakan pengaruhnya untuk menekan otoritas bursa agar melindungi kemerosotan harga saham anak perusahaan andalan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dengan melakukan suspensi (penghentian transaksi saham) tanpa batas waktu.

Dia sempat dikabarkan berseteru dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani soal pencabutan suspensi saham. Namun, pria yang dilaporkan Forbes memiliki kekayaan USD 5,4 miliar tersebut membantah dirinya ikut mencampuri masalah bisnis Grup Bakrie.

"Saya tidak pernah berselisih dengan Sri Mulyani. Kami berdua ada di kabinet dan kabinet ini sangat kuat di bawah kepemimpinan presiden. Dia (Sri Mulyani) telah melakukan pekerjaan yang hebat. Kabinet ini bersatu, tidak ada perpecahan di kabinet," tegasnya.

Dia juga membantah menggunakan pengaruhnya di pemerintahan untuk membantu kepentingan bisnis keluarga. "Saya bukan lagi seorang pebisnis. Saya tahu apa yang (keluarga saya) lakukan. Namun, saya bukan lagi seorang pebisnis," ujarnya.

"Saya pergi ke kantor perusahaan untuk berdoa, iya. Dan jika pada suatu petang saudara saya ingin memberikan laporan, oke, kami akan mendiskusikannya. Tapi, itu saja," ungkapnya.

Lalu, akan ke manakah Ical setelah meninggalkan pemerintahan? Dia menyatakan menjadi pembantu presiden selama lima tahun sudah cukup. "Saya sudah menyumbangkan kemampuan saya selama lima tahun. Sekarang saya ingin bermain dengan cucu dan meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga sambil melakukan kegiatan amal," ungkapnya.

Saham Bakrie Gembos

Di pihak lain, harga saham Grup Bakrie terus terjun bebas setelah pernyataan gagal bayar utang (default) gadai saham (repo) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) sebesar Rp 144,9 miliar, terungkap ke publik.

Dua saham yang baru dibuka suspensinya Selasa, 18 November, yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), juga langsung tergelincir.

Saat ini, holding Grup Bakrie memang masih punya utang repo ke delapan kreditor. Total keseluruhan utang BNBR mencapai Rp 545,8 miliar dan USD 1,39 miliar. Perseroan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan lokal dan asing itu dengan menggadaikan saham-saham BUMI, UNSP, ENRG, dan PT Bakrie Development Tbk (ELTY).

Masing-masing sebanyak 5.126.427.858 (26,42 persen dari total saham), 394.963.598 (10,42 persen), 4.760.330.000 (30,97 persen), dan 3.796.540.000 (19,06 persen). Dua utang repo BNBR gagal bayar karena nilai kolateralnya, yaitu saham BUMI dan UNSP, yang terus anjlok seiring dengan melemahnya harga saham emiten-emiten tersebut.

Yang kini jadi pertanyaan publik adalah apakah berarti 45.947.500 saham BUMI yang digadaikan ke Recapital akan dieksekusi sehingga saham tersebut lepas dari BNBR? Inilah salah satu yang bisa mengancam transaksi Northstar Pacific senilai USD 1,3 miliar yang telah ditandatangani BNBR pada 31 Oktober lalu.

Namun, Direktur Keuangan BNBR Yuanita Rohali menegaskan bahwa BNBR masih memegang 35 persen saham BUMI. Tidak berarti semua yang default itu, katanya, akan dijual oleh kreditor.

Artinya, meski default, kreditor, dalam hal ini Recapital dan Aldira, masih mengamankan saham tersebut. Kalau pun nanti dilepas oleh kreditor, pihak BNBR sudah menyatakan akan membeli saham BUMI lewat pasar yang harganya sudah sangat terdiskon.

BUMI sudah mengumumkan akan melakukan buyback hingga 3,3 miliar saham dengan dana Rp 8,25 triliun. Saham akan dibeli kembali dengan harga Rp 2.500 per lembar. Hingga kini, BUMI berencana melakukan penerbitan medium term notes (MTN/surat utang jangka menengah) hingga Rp 6 triliun dengan tenor 1–2 tahun.

PT Asia Kapitalindo Securities dan Samuel Sekuritas akan menjadi penjamin emisi dalam aksi penerbitan MTN tersebut. Jadi, BUMI akan membeli sahamnya kembali dengan menggunakan surat utang.

Terkait paparan publik yang sudah dilakukan BNBR, otoritas bursa masih akan mencermati secara lebih detail. "Secara umum kita mengapresiasi, tapi memang perlu dijelaskan lagi secara lebih detail," ujar Direktur BEI Eddy Sugito.

Limbungnya saham-saham anak perusahaan Grup Bakrie melengkapi suramnya pasar finansial Indonesia kemarin. Pada penutupan perdagangan, kurs rupiah berada pada level Rp 11.750 per dolar AS (USD), terjerembab 50 poin dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Rupiah makin mengkhawatirkan karena pada perdagangan di sesi pagi sempat terpelanting hingga menembus level Rp 12.050 per USD, membentuk level terendah sejak dasawarsa lalu. Pergerakan USD memang terus menguat, termasuk terhadap hampir semua mata uang kawasan.

Sementara di lantai bursa, indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak pararel mengikuti pergerakan bursa kawasan dan global yang menuju teritori merah. Pada perdagangan kemarin, indeks melemah 3,8 persen (47,07 poin) menuju level 1.189,86. Posisi indeks saat ini terus mendekati titik terendah pada bulan Oktober lalu, di mana indeks bertengger di level 1.089.

Kelompok 45 saham unggulan, indeks LQ 45, melorot 12,52 poin (5,24 persen), menuju level 226,49.

Gubernur BI Boediono mengatakan, bank sentral akan tetap menjaga rupiah pada posisi yang realistis. Boediono berharap, investor sudah mulai melepas dolarnya, terutama di saat nilainya sudah sangat tinggi.

"Kita juga menginginkan agar orang juga memikirkan dengan tingkat rupiah seperti ini, masa dolarnya tidak dilepas? Ini kan harga yang bagus," kata mantan Menko Perekonomian itu.
Menurut guru besar Universitas Gadjah Mada tersebut, pelemahan rupiah disebabkan meningkatnya kebutuhan dolar, terutama untuk pelunasan utang valas.

"Saya kira ini masalah suplai dan demand. Ada (kebutuhan) korporasi, impor, dan saya kira BUMN juga memerlukan itu (dolar)," kata Boediono. (eri/sof/kim)

Tidak ada komentar: