Berharap Pertemuan di Surga

Berharap Pertemuan di Surga

18.20 0
Oleh Muhammad Rizqon

Waktu, laksana jalan membentang panjang saat kita berada di ujung awalnya, tetapi terasa sangat pendek ketika kita berada di ujung akhirnya. Demikianlah yang saya rasakan saat itu, saat hendak meninggalkan daerah yang setahun saya singgahi guna menimba ilmu dan hikmah dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Kantor megah yang menjadi kebanggaan kota ini pun harus saya tinggalkan. Demikian juga dengan rekan-rekan kerja yang selama ini menjalin kerja sama yang baik dengan saya.

Di saat matahari telah tergelincir dari titik kulminasinya, saya berpamitan pada rekan-rekan kerjaku. Tidak ada ucapan selamat berpisah. Yang ada adalah ucapan titip salam buat keluarga dan harapan agar lebih sukses di tempat tugas yang baru. Sebagian dari mereka mengucapkan terima kasih kepada saya, karena kontribusi yang saya berikan tidaklah bernilai kecil. Andai bisa memohon, mereka pun memohon agar saya bertahan lebih lama di kota ini. Bukan apa-apa, mereka tidak yakin orang yang datang setelah saya adalah orang yang bisa langsung diandalkan. Setidaknya butuh waktu bagi orang baru untuk beradaptasi dan bisa bermitra dengan mereka. Sungguh kata-kata yang tidak bisa saya lupakan yang sejatinya mengungkap dan membangkitkan optimisme saya bahwa saya bisa menjadi orang yang berguna.

Demi menghibur mereka, saya mengatakan bahwa perubahan akan senantiasa ada dan bersifat dinamis. Kita tidak mengetahui nasib ke depan berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi itu. Apakah akan berpisah selamanya ataukah akan dipertemukan lagi, semuanya adalah misteri dan dua-duanya bisa terjadi.

***
Malam harinya, saya menyempatkan diri berpamitan dengan sahabat-sahabat yang ada di kota ini, sahabat-sahabat yang selama ini menghiburku di tengah galau dan keterpisahan saya dengan anak dan isteri, nun jauh di sana.

Saya bertemu dengan Helmi, sahabat yang menawarkan diri untuk mengantarkanku ke bandara esok hari. Sangat antusias Helmi menawarkan kebaikannya sehingga saya tidak berkuasa menolaknya. Saya bisa saja meminta tolong rekan-rekan kerja yang memiliki mobil untuk mengantarkan saya, atau meminta kesediaan sopir kepala unit untuk mengantarkan dengan mobil operasional kantor. Atau andai semuanya tidak bisa, saya bisa memesan taksi mobil pribadinya yang nomor handphonenya sudah saya simpan sebelumnya. Namun saya lebih tertarik dan merasa sreg jika Helmi yang mengantarkan saya, meski bukan dengan mobil melainkan dengan sepeda motor butut.

Jarak Bandara dengan kediaman saya memang relatif dekat dan mudah di jangkau dengan jenis kendaraan apa saja. Saya yang biasa di antar kawan dengan mobil perusahaan, kali ini menyatakan bersedia diantar oleh sahabatku Helmi Ibrahim dengan sepeda motor. Ini adalah saat-saat terakhir meninggalkan kota, jadi tidak ada salahnya saya ingin menikmati kebersamaan dengan seorang sahabat menjelang detik-detik perpisahan itu.

Helmi sangat konsisten dengan janjinya. Pagi hari Helmi sudah stand by dengan rompi khasnya di depan rumah kos saya. Saya beranjak turun dari lantai dua tempat persinggahan saya itu, kemudian saya persilahkan Helmi untuk duduk di beranda sementara saya memesan minuman dan kue –di warung depan milik ibu kos– untuk saya sajikan sebagai teman menunggu.

Setelah saya hidangkan dan mempersilahkan minum, saya pamit untuk merapikan ruangan dan mengemasi barang-barang. Barang-barang saya tidaklah banyak, sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengemasinya.

Saat saya telah siap, saya berpamitan kepada bapak dan ibu kos. Saya sampaikan permohonan maaf jika selama ini ada kekhilafan yang sengaja maupun yang tidak disengaja. Saya juga mohon doa agar Allah memudahkan perjalanan dalam rangka menemui keluarga di Jakarta. Terakhir saya juga mohon doa agar di tempat tugas yang baru nanti, saya bisa memberikan kontribusi yang cukup berarti, baik buat pengembangan diri pribadi maupun kemanfaatan pihak-pihak yang memiliki kepentingan.

Setelah cukup berpamitan, Helmi menghidupkan motor, kemudian saya segera naik. Saya mengucapkan salam kepada bapak ibu kos, yang selama ini menemani saya dalam kesendirian terpisah dari orang-orang tercinta.

Motor melaju pelan dan cukup nyantai karena kami tidak begitu diburu waktu. Tersedia cukup waktu bagi kami untuk berbincang dan berbagi perasaan menjelang detik-detik perpisahan. Tanpa terasa, kami akhirnya tiba di Bandara.

Pesawat belum datang saat kami kami tiba di bandara pagi itu. Saya ajak Helmi untuk menunggu di kedai minuman. Di sana kami melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda. Begitu terdengar bunyi Pesawat yang hendak saya tumpangi datang mendarat, kami pun bersepakat untuk berpisah saat itu. Saya hendak menuju ruang tunggu keberangkatan, sedangkan Helmi hendak kembali ke kota menjalani dan melanjutkan aktivitas rutinnya yang sempat tertunda.

Sebagai tanda persahabatan, saya ingin memberikan sesuatu kepada dia. Sayangnya, saya tidak menyiapkan apa-apa, selain beberapa lembar uang yang bisa saya berikan.

“Helmi, terimalah ini.” Saya menyodorkan sejumlah uang dalam sebuah amplop.
“Apa ini?!” Helmi menjaga jarak agar aku tak bisa menjangkau dirinya. Nampaknya ia hendak menolak dengan apa yang akan saya berikan.
“Ini untuk anak-anakmu. Untuk membeli buku-buku atau apa saja.”

Helmi adalah profil seorang sahabat yang dhuafa. Rumahnya masih ngontrak. Kondisi rumahnya sangat sederhana dan terkesan selalu berantakan. Handphone saja ia belum memilikinya waktu itu. Komunikasinya adalah komunikasi langsung. Namun untungnya, keberadaan dia gampang untuk ditelusuri. Terlebih di kota kecil yang bukan kota metropolitan layaknya Jakarta ini. Jika ia tidak ditemukan dirumah, pastilah ia berada di warung kelontongnya. Atau di markas organisasi dakwahnya, atau sedang berada di masjid. Atau jika tidak ditemukan juga, ia bisa ditemukan dengan cara menghubungi teman-teman yang memiliki handphone, pasti salah satu dari mereka mengetahui keberadaan Helmi.

Meski dhuafa, Helmi adalah sahabat yang sangat menghargai arti persaudaraan. Jika ia hendak menghadiri majelis iman, ia selalu menanyakan siapa teman-teman yang bisa dijemput untuk hadir bebarengan menggunakan sepeda motor bututnya. Meski butut, ia sangat menyadari bahwa sepeda motor itu akan memiliki nilai keberkahan jika dimanfaatkan untuk kebaikan. Oleh karenanya, ia kadang rela bolak-balik menjemput teman-teman yang hendak hadir di majelis iman di malam hari, sementara mereka tidak memiliki sepeda motor dan di malam hari tidak ada angkutan yang beroperasi.

Karena penghargaan atas nilai persaudaraan itulah, ia menolak apa yang hendak saya berikan di bandara itu. Ia berkata,
“Jangan begitu lah. Aku ini tidak mau dibayar. Aku hanya mengharap kebaikan dan pahala dari Allah saja.”

Saya pun mencoba membujuk, “Tapi yang saya kasih ini tidak mengurangi pahala kebaikanmu, Helmi. Ini adalah rezeki dari Allah.”

Namun nampaknya ia masih bersikukuh dengan pendiriannya itu. “Sudahlah, kamu bawa saja buat nambah ongkos di jalan. Atau buat beli oleh-oleh buat anak-anak di rumah.”

Saya tentu saja berkeberatan. Anak-anak Helmi tentu lebih membutuhkan uang dibanding anak-anak saya. Pada akhirnya saya memberi jalan tengah untuk menghindari situasi tidak enak yang berkepanjangan.
“Gini aja dech. Kamu terima aja, tolong diinfaqkan ke pihak yang membutuhkan. Saya tidak patut untuk menarik uang itu kembali.”

Alhamdulillah, kami pun sepakat dengan solusi itu. Kami akhirnya berpelukan sebelum akhirnya berpisah. Nampaknya Helmi ingin menangis karena haru. Saya pun sebenarnya juga demikian. Namun masing-masing kami mencoba menahannya dan cukup menyimpan keharuan itu di dalam hati.

“Hati-hati ya!”, Helmi berpesan kepada saya.
“Insya Allah, jangan putus komunikasi ya.”
“Ya. Insya Allah. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah”

Helmi menuju halaman parkir sepeda motor. Menghidupkannya dan kemudian meninggalkan bandara. Bayang-bayang Helmi perlahan hilang sebelum akhirnya saya beranjak menuju ruang tunggu keberangkatan.

***

Kejadian barusan yang dilakukan Helmi, benar-benar mengundang keharuan saya. Helmi, adalah salah satu sahabat yang begitu memahami dan menghargai makna dari persaudaraan. Keterbatasan hidupnya sebagai pedagang kecil, tidak memudarkan rasa cinta kepada saudaranya, termasuk terhadap diri saya.

Semangat ‘survive’ dan mandirinya perlu dicontoh. Dia pernah berjualan gorengan dengan gerobak, berjualan sayuran di pasar, membuat dan mengantarkan kue di pasar, jualan sembako, dan usaha-usaha lain agar ia tetap survive. Keyakinan jaminan rezeki menjadikan semangat berusahanya tidak pernah mati. Kisah ‘burung yang pergi di pagi buta dengan perut kosong, pulang sore hari dengan perut penuh berisi makanan’ menjadi inspirasi dan referensi hidupnya sehingga ia selalu terpacu semangatnya menjalani kehidupan tanpa ada keluh kesah dan kekhawatiran akan jaminan rezeki dari-Nya. Tubuhnya yang menghitam, seakan menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan hidup yang dia lakukan guna menafkahi keluarganya.

Saya sungguh kagum dengan sahabat seperti Helmi itu. Dengan kondisi ekonomi yang seadanya, ia tetap bisa berdakwah dan berjuang untuk memperbaiki kondisi ummat. Subhanallah.

Selamat jalan dan selamat berjuang sahabatku. Kita pernah bersatu dan Insya Allah selalu bersatu di jalan kebaikan. Kelak, kita pun akan dipertemukan dalam rangka menunai jalan kebaikan itu di Surga. Insya Allah. Amin.

Waallahu’alam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com).

---
Kenangan bersama seorang sahabat di Bangka Belitung

Sumber :http://eramuslim.com/atk/oim/8530005320-berharap-pertemuan-surga.htm?other
Tukang Mie Ayam Itu...

Tukang Mie Ayam Itu...

18.19 0
Oleh Budiyanto

Ia adalah sosok lelaki biasa, umurnya saya tidak tau persis, kira-kira 45 tahun. Orang-orang memanggilnya dengan nama Bang Leman, mungkin nama aslinya Sulaiman, tapi entah lah saya tidak pernah menanyakannya. Dulu rumahnya lumayan jauh dengan saya, tapi sejak saya pindah kini ia jadi tetangga saya.

Yang saya tahu sejak saya SD ia sudah berkeliling berjualan mie ayam meski tak lewat depan rumah saya, saya termasuk pelanggan setianya. Saya senang makan mie ayamnya karena enak dan tidak mahal. Sebenarnya ada alasan lain juga sih, kadang kalo saya beli mie ayamnya sering dikasih lebih, kalo beli 2 bungkus eh dibikinin jadi 3 bungkus. Saya juga kadang suka tidak enak dengan kebaikannya tapi memang orangnya begitu, tidak hanya dengan saya dia berjualan dengan cara seperti itu, dengan orang lain yang dia kenal baik juga umumnya begitu. Makanya dengan kebaikannya itu pelanggannya semakin bertambah.

Orangnya ramah dan mudah akrab dengan orang lain, kadang kepada orang lain yang dikenal tanpa sungkan ia menawarkan dagangannya, bukan menawarkan untuk menjual dagangannya tapi menawarkan tulus bukan untuk mendapatkan bayaran. Mungkin kesannya basa-basi tapi buat saya tawaran ia begitu tulus. Tak heran walaupun agak jauh dari rumah saya tapi saya bela-belain ke rumahnya atau menunggunya di tempat biasa ia mangkal untuk membeli dagangannya.

Ujian dari Allah menerpanya. Sejak tahun 2006 ia terserang stroke ringan. Praktis usahanya berhenti, berbulan-bulan ia berkutat dengan penyakitnya, mencoba berbagai pengobatan alternatif. Saya sempat menjenguknya dan kondisinya memang menyedihkan. Ia masih sulit berjalan karena otot kakinya kaku. Untuk menopang ekonomi rumah tangganya sehari-hari anak-anaknya bekerja serabutan, anak sulungnya bahkan ada yang ke Kalimantan untuk bekerja di sana.

Alhamdulillah sepertinya Allah memberikan kecukupan pada keluarga ini, meski mendapat cobaan ia tetap menjaga izzahnya, ia tidak meminta-minta atau mengharap belas kasihan orang lain, belas kasihan orang-orang yang dulu ia tawari mie ayam dengan tulus tanpa membayar.

Alhamdulillah Tahun 2007 kondisinya sudah membaik, ia mulai bisa berjalan meski masih tertatih-tatih. Tak mau bergantung dengan orang lain dan tak mau menyusahkan anak-anaknya, ia memilih membuka usaha warung kelontong di halaman rumahnya yang asri. Saya sering melihatnya melewati jalan di dekat rumah saya untuk pergi belanja kebutuhan warungnya. Ia senang bisa jalan kaki hampir tiap hari pergi belanja dan sekalian untuk terapi penyembuhan penyakitnya, begitu katanya.

Kini orang baik itu telah menjadi tetangga saya. Aktivitasnya yang kebanyakan di rumah membuat ia semakin dekat dengan Allah. Kini ia tidak perlu berangkat ke pasar di pagi buta, justru aktivitasnya adalah membangunkan orang lain untuk sholat subuh.

Ya betul ia kini menjadi "muadzin tetap" sholat shubuh bahkan hampir di setiap waktu sholat di musholla dekat rumahnya. Ia tidak perlu lagi berkeliling kampung menjajakan dagangannya, tapi Insya Allah orang sekampung akan mendatangi warungnya untuk berbelanja. Ia tidak perlu lagi mendorong gerobaknya di tengah teriknya mentari, ia cukup duduk di warungnya ditemani isteri tercintanya sambil mengaji.

Sungguh Allah telah memberikan hikmah yang manis di balik setiap ujian yang Ia berikan.

http://anandira.multiply.com
FPI Berdzikir, AKKBB Nyalakan Lilin

FPI Berdzikir, AKKBB Nyalakan Lilin

18.17 0
Sejak tengah malam, Jalan Petamburan III yang telah dihalangi sejumlah bambu yang dililit kawat duri tampak dipenuhi oleh massa dan simpatisan Front Pembela Islam. Jalan selebar lebih kurang lima meter yang berada di depan markas FPI tampak ditutupi karpet dan tikar seadanya. Acara dzikir bersama dilantunkan dipimpin oleh Ustadz Alwi dari FPI.

“Kami di sini, malam ini, berdzikir kepada Allah agar kami diberi kekuatan menghadapi cobaan ini dan semoga Allah membuka mata hati saudara-saudara Muslim yang ada di mana pun agar bisa membeakan mana yang haq dan mana yang bathil, ” ujar Ust. Alwi.

Suasana syahdu tampak terasa di sekitar markas FPI ini. Lantunan ayat-ayat suci dan dzikir terus bergema memenuhi langit Petamburan.

Sementara itu, di Yogyakarta, puluhan massa Gerakan Integrasi Nasional (GIN) yang termasuk dalam kelompok AKKBB menggelar malam renungan dengan menyalakan lilin. Menyalakan lilin bukan bagian dari tradisi Islam, melainkan tradisi orang-orang kafir. Walau demikian, sejumlah perempuan berkerudung ketat (bukan jilbab) tampak mengikuti acara tersebut. Entah, mereka paham atau tidak bahwa Rasulullah SAW empatbelas abad lalu sudah memperingatkan umatnya agar tidak sekali-kali menyerupai atau melakukan hal-hal yang menyerupai orang kafir, seperti menyalakan lilin untuk suatu acara tertentu.

Hal yang dilakukan AKKBB memang tidak istimewa. Karena aliansi yang terdiri dari banyak orang dari agama yang berbeda tersebut, bahkan ada yang mengaku tidak beragama namun menggunakan istilah 'penghayat terhadap ketuhanan'--sudah terbiasa atas nama pluralisme dan liberalisme mengerjakan hal-hal yang bukan tuntutan agamanya sendiri. Abdurrahman Wahid sebagai sesepuh AKKBB misalnya, sering berkunjung ke gereja dan bahkan ke Israel menemui tokoh-tokoh Zionis di sana sembari mengecam HAMAS yang merupakan kelompok pejuang kemerdekaan Palestina.

Dari dua momen ini sudah jelas bisa ditangkap simbol-simbol atau ideologi kedua kelompok tersebut. FPI jelas berideologi Islam dengan menggelar acara dzikir, sedangkan yang menyalakan lilin di Yogya adalah elemen dari AKKBB. (rz)
Sumber :http://eramuslim.com/berita/nas/8604025234-fpi-berdzikir-akkbb-nyalakan-lilin.htm
Konsumsi Susu Indonesia Kalah dari Malaysia-Vietnam

Konsumsi Susu Indonesia Kalah dari Malaysia-Vietnam

02.39 1
JAKARTA -- Jumlah penduduk Indonesia yang secara rutin minum susu ternyata masih tergolong rendah. Data yang dirilis FAO (Food and Agriculture Organization) menunjukkan, pada tahun 2007, angka per kapita konsumsi susu Indonesia hanya berada di level 9 liter perkapita per tahun.

Jumlah ini berarti tidak sampai separo dari angka konsumsi susu di Malaysia yang mencapai 25,4 liter per tahun. Angka konsumsi tersebut juga masih di bawah negara tetangga lainnya, yakni Vietnam yang mencapai 10,7 liter per kapita per tahun. Padahal, susu alami memiliki khasiat meningkatkan pertumbuhan kesehatan, baik secara fisik maupun mental pada anak dan mencegah kerapuhan tulang bagi orang dewasa.

Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari mengatakan, manfaat susu luar biasa bagi tubuh. "Susu sangat dibutuhkan bagi tubuh sejak bayi baru lahir, berupa ASI hingga berusia 2 tahun. Setelah berusia 2 tahun hingga akhir hayat, susu dapat diperoleh dari sapi perah," ujarnya dalam peringkat Hari Susu Sedunia di Jakarta kemarin (1/6).

Untuk mendorong kesadaran minum susu ini, perayaan hari Susu Sedunia dirintis oleh Badan Pangan dan Pertanian PBB, FAO pada 2001. Di Indonesia, perayaan ini mulai diprakarsai Tetra Pak Indonesia sejak empat tahun lalu.

Selebrasi ini didukung oleh berbagai departemen pemerintahan di antaranya Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga, Dewan Persusuan Nasional, Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Kelompok Peternak Sapi Perah Indonesia, dan Industri pengolah susu.

Siti menambahkan beragam manfaat yang dimiliki susu. "Dengan rajin minum susu, serta didukung asupan gizi yang seimbang, badan menjadi sehat dan kuat, sehingga masyarakat Indonesia pun tidak mudah sakit," jelasnya.

Sementara Menteri Pertanian Anton Priantono melihat rendahnya komsumsi susu masyarakat Indonesia disebabkan berbagai bahan dasar industri susu masih impor. Hal ini berdampak pada mahalnya harga jual produk-produk susu.

"Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi peternak sapi perah lokal. Oleh karena itu, peningkatan konsumsi susu harus dilakukan, sehingga industri susu mau melakukan investasi ke Indonesia dan bahan dasarnya tidak perlu impor lagi," jelasnya.

Berbagai even digelar untuk mengampanyekan hari susu Sedunia tersebut. Di antaranya Kejuaraan Nasional Bulutangkis Usia Dini Tetra Pak Open, kemudian Pameran Susu dan Bulutangkis di Mall Taman Anggrek Jakarta, serta lomba karya tulis dan kreativitas anak serta seminar PKK nasional.

Acara tersebut dihadiri Meneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault. Dalam kesempatan tersebut, Menpora juga merespons positif upaya untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik masyarakat Indonesia. (iw/nw)

Sumber :http://fajar.co.id
Kali Pertama Terjadi Hujan Uang Rp100 Juta

Kali Pertama Terjadi Hujan Uang Rp100 Juta

02.37 0
JAKARTA -- Sosok Tung Desem Waringin selalu lekat dengan aksi-aksi mengejutkan. Mantan karyawan BCA yang banting setir jadi motivator itu menggelar aksi hujan uang sebesar Rp100 juta dalam rangka peluncuran buku terbarunya, Marketing Revolution.

Mungkin pembaca masih ingat, saat Tung meluncurkan buku pertamanya, Financial Revolution, dengan cara yang sangat heboh. Dia berkuda membelah kemacetan Jalan Sudirman, Jakarta.

Tak sia-sia, buku itu memecahkan rekor penjualan Harry Potter I untuk Indonesia, yaitu mencapai 10.511 eksemplar hanya dalam waktu sehari. "Buku itu (Financial Revolution, Red) hanya laku sepuluh ribu sekian eksemplar karena memang dicetak segitu. Kita sama sekali tidak menyangka. Sehari diluncurkan langsung habis, stok di semua toko kosong selama 15 hari," cerita pria kelahiran 22 Desember 1967 tersebut, tadi siang.

Kemarin, alumnus UNS Surakarta itu kembali menggelar acara sensasional untuk pre-launching buku keduanya, Marketing Revolution. Dia menggelar acara hujan uang senilai Rp100 juta di lapangan Desa Drangong, Kecamatan Taktakan, Serang, Banten. "Apakah Tung sudah terlalu kaya sampai akhirnya menyebar uang? Apa hujan uang ini aksi sosial? No, no. Ini sebuah protes marketing," tuturnya.

Pria yang pernah mendapat gelar Top 10 Eksekutif di Indonesia dari Grup Jawa Pos dan Lions Club Surabaya itu berangkat dari Lapangan Udara Pondok Cabe, Jakarta. Di badan pesawatnya, tertulis judul bukunya, Marketing Revolution, dengan huruf kapital berwarna biru.

Acara tersebut semula dijadwalkan dihelat di Parkir Timur, Senayan. Karena tak mendapatkan izin kepolisian, lantas dipindahkan ke Serang, Banten. Tung berencana memindahkan acaranya ke Kepulauan Seribu, namun juga tidak mendapatkan izin dari Polda Metro Jaya.

Pantauan koran ini di lapangan, ratusan warga sudah menunggu aksi heboh tersebut sejak pukul 08.30. Padahal, Tung dengan pesawatnya baru berputar-putar di langit Serang sekitar pukul 09.20. Tak hanya warga desa setempat yang mencoba peruntungan.

Sejumlah warga dari desa tetangga juga berduyun-duyun di lapangan sepak bola tersebut. "Lumayan, semoga bisa dapat rezeki sebelum jualan bakso nanti siang," ujar Pardianto, penjual bakso asal Desa Taman, tetangga desa tempat dijatuhkannya uang.

Sekitar pukul 09.20, pesawat Tung sudah tampak di langit Serang yang kemarin cerah berawan. Uang Rp100 juta dengan pecahan Rp1.000, Rp5.000, dan Rp10.000, dibagi ke dalam 10 kantong. Lima menit kemudian, pesawat tersebut melintas di atas lapangan. Ratusan warga sudah riuh, saling berlari dan bersorak. Tapi, kantong uang tak jua disebarkan. "Pesawat masih mencari arah angin yang tepat," terang seorang aparat keamanan yang memegang pengeras suara.

Akhirnya, tepat pukul 09.25, kantong pertama dijatuhkan. Blur�dan uang-uang itu pun berhamburan. Warga langsung berebut. Sayang, angin yang berembus kencang membuat uang-uang itu mengarah ke luar lapangan. Warga langsung berlari, memanjat pagar lapangan. Bahkan, ada yang memanjat rumah. Sawah-sawah becek diterjang.

Sepuluh menit kemudian, kantong kedua diterjunkan. Kali ini, pesawat terbang lebih rendah. Sehingga, uang terpusat di lapangan. Aksi saling berebut tak terelakkan. Puluhan orang saling menindih, panitia pontang-panting meredakan ketegangan.

Ada satu kejadian yang memilukan. Tatik Rusmiyati, 43 tahun, pada sebaran kantong keempat berlari sekuat tenaga menuju pusat sebaran uang. Dia melompat, dan tangan mungilnya berhasil meraih segepok uang. Sayang, sedetik kemudian, puluhan orang mengerubutinya dan menindihnya.

Puluhan orang tadi berusaha merebut uang dari dekapannya. Tatik menindih uang dengan badannya. Dia menjerit. Panitia berusaha menghentikan aksi tersebut. Suasana sesaat reda, tapi ada sejumlah perempuan yang masih berusaha merebut. "Itu uang saya! Sini!," ujarnya setengah menangis.

Sang perempuan yang merebut tak mau kalah, tetap ngotot merebut uang. Akhirnya, seorang petugas keamanan datang melerai. Tatik langsung mencopot kerudungnya, lantas memasukkan uang ke kerudung kuning itu. "Saya senang sekali. Alhamdulillah, bisa membantu bapak. Sekarang zaman susah," ujarnya dengan terisak.

Sejumlah warga mengalami luka. Namun, hanya lecet-lecet. Di akhir acara, seorang gadis pingsan. Lutut dan mata kakinya berdarah. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dengan mobil petugas keamanan. (eri)

Sumber :http://fajar.co.id
Berburu Nilai Tertinggi

Berburu Nilai Tertinggi

02.33 0
TIDAK terasa nih para siswa yang kini sedang duduk dibangku kelas X dan XI sedang siap-siap untuk berjibaku menghadapi ujian kenaikan kelas. Huh, kira-kira diantara kita merasa udah siap belum yah? Jangan sampe nih gara-gara terlalu asyik dan berleha-leha dengan kegiatan di luar sekolah atau lain sebagainya.

Jadinya pelajaran sekolah tidak lagi menjadi prioritas utama. Ujung-ujungnya persiapan ujian jadi tidak maksimal dan nilai jadi anjlok deh.

Eits, nilai jatuh atawa turun sih tidaklah seberapa. Tapi kalau sampe tidak naik kelas, gimana dong!? Wah, selain ortu bakal marah-marah gak ketulungan.

Pastinya kita juga malu banget. So, satu-satu jalan adalah kita harus belajar keras agar mendapatkan hasil ujian yang memuaskan, termasuk berburu nilai terbaik dari setiap mata pelajaran.

Salah satu Responen KeKeR (RespEK) bernama Fina, siswi SMA 1 Makassar beranggapan kalau untuk mendapatkan nilai tertinggi kita harus bisa menjaga kesehatan kita. Wah, benar juga tuh! " Menurut salah satu guruku, daftar kehadiran itu sangatlah mempengaruhi nilai kita.

So, kalau kita sering sakit-sakitan udah bisa ditebak dong nilai kita bakal pas-pasan," kata cewek berkerudung ini.

Tapi siswi anak kelas XI IPA 7 ini juga menimpali ternyata masih banyak alternatif lain yang dapat ditempuh loh. "Selain itu, buat kita yang punya seabrek kegiatan ekskul juga harus pintar-pintar membagi waktu antara ekskul ama pelajaran sekolah. Jangan sampe mengabaikan kegiatan belajar" tambahnya.

Berbeda dengan dengan Masriana, siswi penghuni di SMA 13 Makassar. Dia juga berpendapat kita harus belajar dengan giat. "Buat aku tuh belajar harus nomor 1 dan kita juga harus bisa menyelesaikan tugas-tugas kita yang belum terkumpul.

Biar dapat nambah-nambah nilai,"kata cewek yang duduk di bangku kelas XI IPA 1 ini.
Lain halnya dengan Dewi, siswi SMA 4 Makassar. "Untuk mendapatkan nilai yang baik kita juga harus pintar-pintar mengambil hati guru kita. Tapi untuk guru yang agak killer, kayaknya saya berdoa aja deh,"kata cewek inii dengan senyuman jahilnya.

Any way untuk mendapatkan nilai tertinggi, caranya itu semua tergantung pada individu masing-masing. Tapi alternatif apapun yang kita ambil, haruslah tetap giat belajar dan berdoa kepada Tuhan. Ingat Guy's, sesuatu hal yang positif dan tahan lama itu harus diraih dengan perjuangan yang disertai dengan kerja keras. So, tetap semangat yah! (rek1-rm3)
Bupati Copot Kepsek Cabul

Bupati Copot Kepsek Cabul

02.31 0
Laporan: Nasri Aboe

PINRANG--Bupati Pinrang AM Nawir mengambil sikap tegas sekaitan kepala SMP I Patampanua berinisial SN yang diduga melakukan pelecehan seksual. Meski proses hukum masih berjalan, namun Nawir sudah melakukan pencopotan terhadap kepala SDN bersangkutan.

"Kalau dalam proses hukumnya kelak ternyata terbukti di pengadilan dengan hukuman lima tahun keatas, sesuai aturan oknum tersebut sudah pasti dipecat dengan tidak
hormat, " kata Khaeruddin Kepala Bagian Hukum Pemkab Pinrang, Minggu, 11 Mei.

Usai pencopotan itu, untuk sementara jabatan kepsek dipegang Drs Nau Alam Kadir. Sedang oknum SN sendiri, dimutasikan sebagai guru biasa di SMP Negeri Cilallang,
Kecamatan Cempa, Pinrang.

Sementara itu, sejumlah guru-guru yang dimintai komentarnya terkait aksi bejat SN terhadap siswinya 3 Mei lalu mengatakan SN memiliki kelainan seksual. (**)
Malaysia Larang Gunakan Kata "Allah"

Malaysia Larang Gunakan Kata "Allah"

02.30 0
KUALA LUMPUR -- Hanya terjadi di Malaysia. Kata "Allah" diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Akibatnya, sebuah penerbitan agama lain yang menggunakan kata tersebut dipaksa menghentikannya atau izin penerbitannya dicabut.

"Hak eksklusif bagi muslim untuk menggunakan kata Allah hanya ada di Malaysia," tegas Bernard Dompok, pejabat di kantor perdana menteri negeri jiran itu.

Media tersebut, The Herald tidak terima dengan larangan tersebut. Mereka pun mengajukan gugatan ke pengadilan dengan memasukkan nama Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi sebagai seorang tergugat. "Kami juga mempunyai hak menggunakan kata "Allah", tapi hak tersebut kini dibatasi," ujar Pastur Lawrence Andrew, editor The Herald kepada AFP.

Larangan yang dialami koran dengan tiras 12.000 eksemplar itu sebenarnya sudah lama dirasakan. Namun karena tidak ada penjelasan pasti, mereka mengabaikannya.

Menteri Muda Urusan Dalam Negeri Malaysia Mohamad Johari Baharum menjelaskan bahwa izin The Herald akan dibekukan, sampai media itu menyanggupi aturan yang ditetapkan pemerintah tadi. "Mereka harus berhenti menggunakan kata Allah, Baitullah, salat, dan Kabah," tegasnya.

Dasarnya, menurut Baharum, penggunaan kata-kata tersebut akan memunculkan kegelisahan dan kebingungan di kalangan komunitas muslim yang menjadi mayoritas di Malaysia. Menurutnya, keputusan pemerintah itu sudah final.(AFP/AP/dia/ruk)
Gaji Ke-13 Dibayarkan 15 Juni

Gaji Ke-13 Dibayarkan 15 Juni

02.27 0
Laporan: Sultan Rakib

MAKASSAR-- Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memastikan pencairan gaji ke-13 dilakukan paling lambat 15 Juni mendatang. "Gaji ke-13 tidak boleh terlambat. Khusus untuk PNS Pemprov Sulsel, Insya Allah, paling lambat 15 Juni seluruh gaji ke-13 ini akan dibayarkan," kata Pelaksana tugas (Plt) Asisten II Pemprov Sulsel A Yushar Huduri, Senin (2/6) tadi.

Pemprov Sulsel sendiri telah menyiapkan anggaran Rp23.652.563.301 untuk pembayaran gaji ke-13 seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jumlah ini mengalami pembengkakan lebih Rp4 miliar lantaran adanya penambahan jumlah PNS.

Sebelumnya, Pemprov Sulsel hanya menyiapkan dana sebanyak Rp19 miliar untuk 9.800 PNS. Namun jumlah tersebut tahun ini naik menjadi 9.939 orang. (aha)
Unhas Pemenang I Lomba Debat Wilayah D1

Unhas Pemenang I Lomba Debat Wilayah D1

02.19 0
Duet Dea January dan Dian Amelia dari Unhas-1, berhasil tampil sebagai pemenang I Lomba Debat Bahasa Inggris ‘’National University English Debating Contest (NUEDC) Tingkat Wilayah D1 yang berlangsung sejak 26 Mei dan berakhir 28 Mei 2008 dinihari di Hotel Grand Palace, Makassar.
Pada lomba yang diikuti 13 perguruan tinggi dari Sulsel, Sultra, Sulbar, Maluku, dan Papua, muncul sebagai pemenang II dan III UNM-2 (Helmy Pratiwi dan Azwar Tahir) dan UNM-1 (Nurfitri/Fadli), sementara pemenang IV diraih Unhas-2 yang diperkuat Meranti Kurniasih dan Ika Anggraeni..
Pada babak perempat final hingga final, peserta ‘bertarung’ di Hotel Grand Palace. Di perempat final dicari empat tim yang maju ke final dan ‘’dihakimi’’ lima juri, yakni dr.Mahmud Ghanawi, Ph.D., Dr.Syarifuddin Dollah, M.Pd., Dr.Raymond Fatuvbun, M.A., St.Syahriana S.S., Mappling, dan Ardiansyah, S.Pi, M.Biotech, ST.
Kegiatan yang dilaksanakan atas kerja sama Depdiknas, Unhas, dan Sekretariat Bidang Kemahasiswaan Unhas tersebut diikuti Unhas, UNM, Poltek Negeri Pangkep, Poltek Negeri Ujungpandang, Unismuh Parepare, STKIP Kieraha Ternate, Unkris Indonesia Maluku Ambon.
Ketua Dewan Juri Nasional Lomba Debat Bahasa Inggris dari Depdiknas Suharsono menilai Unhas memperlihatkan kesiapan melaksanakan kegiatan ini meski kerja panitia luar biasa beratnya. Persoalannya, bertepatan dengan pelaksanaan debat terjadi demo di Makassar, sehingga mengganggu mobilitas peserta belum termasuk adanya peserta dengan personel ganjil.
‘’Saya memberikan evaluasi bahwa Unhas sudah mempersiapkan diri. Meskipun ada muncul masalah yang spontan, namun saya memberikan ‘’extremly excellenct’’ (baik sekali),’’ kata Suharsono yang bertahan hingga pukul 01.30 dinihari.
Dalam hal kinerja juri, Suharsono pun memberi penilaian yang sangat positif. Menjawab saran seorang dosen Poltek Negeri Pangkep yang saat Ketua Tim Juri nmenyampaikan sambutannya sudah lenyap dari lokasi debat, Suharsono menjelaskan, penyampaian materi debat tidak diberitahu terlebih dahulu kepada para peserta. Tim juri memiliki kelemahan, tetapi ada integritas setiap juri. Kesan berpihak, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menetapkan bahwa dalam memberikan penilaian setiap antarjuri tidak boleh mematok nilai yang mencolok dan berbeda jauh.
‘’Bahkan dari beberapa juri ini ada beberapa yang saya akan usulkan untuk menjadi juri pada lombanasional yang dilaksanakan di Semarang Juli 2008,’’ kunci Suharsono sembari menyampaikan selamat kepada para pemenang.
Pembantu Rektor III Unhas Ir.H.Nasaruddin Salam, MT yang menutup kegiatan dua hari ini mengatakan bahwa dalam setiap kegiatan, kita selalu sulit melepaskan diri dari kesempurnaan. Saran dari Poltek Negeri Pangkep akan menjadi pelajaran berharga bagi siapapun pelaksana kegiatan seperti ini pada masa mendatang.
Salah seorang anggota juri menyayangkan kepada dosen perempuan asal Polteknik Negeri Pangkep yang tidak sempat menyimak penjelasan Ketua Tim Juri Nasional Suharsono mengenai kritik yang disampaikannya. Dia keburu ‘kabur’ dari lokasi kegiatan.
‘’Jadi, kayak ‘hit and run’ (pukul lari),’’ ujar tim juri tersebut. (de@r).
NU Imbau Jangan Balas Kekerasan dengan Kekerasan

NU Imbau Jangan Balas Kekerasan dengan Kekerasan

02.18 0
Senin, 2 Juni 2008 | 15:29 WIB

SURABAYA, SENIN - PWNU Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk tidak membalas tindakan kekerasan yang dilakukan sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Komando Laskar Islam (KLI). Masyarakat diajak untuk menyerahkan penyelasaian hal itu secara hukum. Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Miftakhul Akhyar, mengatakan, kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Bahkan, itu akan memperkeruh persoalan.

"Mohon tahan diri dan jangan lakukan kekerasan lagi. Jangan terpancing upaya memancing konflik. Ansor juga harus menahan diri," ujarnya di Surabaya, Senin (2/6). Ia bahkan menyatakan, tindakan KLI itu hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu kenaikan BBM. Hal itu didasarkan pada pembiaran oleh aparat.

"Saat itu tidak ada penjagaan dan tidak ada penangkapan pelaku penyerangan," ujarnya. Seperti diketahui, sekelompok massa beratribut FPI menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Serangan itu dilakukan di di Lapangan Monas kemarin siang.
Putra SBY Pernah Saksikan Pembuatan Blue Energy

Putra SBY Pernah Saksikan Pembuatan Blue Energy

02.16 0
Sabtu, 31 Mei 2008 | 18:31 WIB

NGANJUK, SABTU- Komandan Kodim (Dandim) 0810 Nganjuk, Jawa Timur, Letkol Chrisetyono Tri Suprapto pernah menyaksikan Djoko Suprapto membuat bahan bakar dari air (blue energy) dengan menggunakan bahan pembersih pakaian atau detergen."Sepengetahuan saya proses pembuatan blue energy yang dilakukan Pak Djoko sangat sederhana," kata Chrisetyono kepada wartawan di Nganjuk, Sabtu (31/5).

Orang dekat Djoko ini mengaku pernah melihat proses pembuatan bahan bakar yang menghebohkan itu beberapa waktu lalu di rumah Djoko di Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Tidak hanya sendirian, Chrisetyono menyaksikan proses pembuatan bahan bakar alternatif berbahan air dan detergen itu ditemani Kepala Dusun Turi, Gunadi. Bahkan demo pembuatan blue energy itu dilakukan di hadapan Staf Ahli Kepresidenan Heru Lelono, dan putra Presiden SBY, Edi Baskoro.

"Saat itu Pak Djoko memasukkan bahan tertentu sejenis detergen ke dalam tangki yang penuh dengan air," kata Chrisetyono. Air di dalam tangki itu lalu dipanaskan sekitar dua jam sampai benar-benar mendidih. "Setelah itu air yang ada di dalam tangki tersebut sudah menjadi bahan bakar," katanya.

Dikatakan Chrisetyono, peragaan cara pembuatan energi ramah lingkungan itu dilakukan Djoko di bengkel motor miliknya yang dia sebut sebagai laboratorium pribadi. Chrisetyono dan Gunadi meyakini betul blue energy temuan Djoko ini kelak menjadi bahan bakar alternatif karena saat dipanaskan isi tangki ikut terbakar.

"Meskipun demikian sampai sekarang kami belum pernah menyaksikan sendiri temuan Pak Djoko ini bisa digunakan untuk menjalankan kendaraan bermotor," kata Gunadi.

Sampai saat ini blue energy temuan Djoko Suprapto masih misterius. Djoko Suprapto hingga kini tak pernah memberikan keterangan resmi mengenai temuannya itu. Rumah Djoko Suprapto di Dusun Turi terlihat selalu terkunci, sementara beberapa petugas keamanan baik yang berseragam lengkap maupun preman terlihat lalu-lalang di sekitar rumah itu.