Sabtu, 17 Januari 2009

ASAL MULA KAPUR BARUS

Pernahkah anda membeli kapur yang mempunyai aroma wangi yang sangat menyengat ? dan biasa di pergunakan untuk mengusir bau apek di lemari atau mengusir bau tak sedap di dalam WC. Mungkin juga anda pernah bertanya dari mana asal kapur barus ini ?
Dari info yang penulis dapatkan bahwa kapur barus ini berasal dari dari sebuah kota tertua di nusantara, mengingat barus merupakan kota di nusantara satu-satunya yang pernah dicatat berbagai literature sejak awal masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China dan lain-lain.
Barus merupakan kota kecil yang berada di pesisir barat provinsi Sumatera Utara, tepatnya di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan medan. Cladius Prolomeus, seorang gubernur kerajaan yunani yang berpusat di Iskandariyah Mesir, membuat sebuah peta dan menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera ada barousai yang dikenal sebagai penghasil wewangian dari kapur.
Prof.Dr. HAMKA mendapatkan seorang pencatat sejarah Tiongkok yang telah menemukan satu kelompok arab yang berdiam di pesisir barat Sumatera pada tahun 674 M yang telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia islam di Pricetown University di Amerika. Hal ini mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama ISLAM di Tanah air.
Tim Arkeolog Ecole Francaise D’extreme-Orient(EFEO) menemukan benda-benda purbakala berkualitas di kehidupan Barus. Orang arab ,Aceh hidup juga di sana.Prancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat peneliti Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi Etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, China, India, Tamil, Jawa Batak, Minagkabau, Bugis, Bengkulu dan sebagainya. Inilah Barus, sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatera Utara yang sangat bersejarah namun ironisnya tidak mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah pusat.

1 komentar:

martua mengatakan...

memang amat tragis mengingat perkembangan pembangunan di kota tua barus amat lambat ibarat perjalanan seekor keong,...semua itu tergantung political will dari pembuatkeputusan bersamam stake holder lainnya,..semoga kedepan barus dapat maju sejajar dengan kota2 lainnya di indonesia.