Sabtu, 17 Januari 2009

ISLAM DI JAWA DAN KEMUSYRIKAN

Mungkin anda pernah melihat – lihat tradisi di jawa secara langsung namun sepertinya hal itu bertentangan dengan ajaran agama islam sendiri. Salah satu keunikan dari islam di jawa adalah menjadi tanda Tanya besar hingga sekarang adalah mengapa islam di jawa sangat toleran terhadap kebudayaan dan adapt istiadat pra-islam yang sesungguhnya mengandung banyak syirik dan khufarat. Ada yang mengatakan bahwa pemanfaatan budaya lokal merupakan bagian strategi dari dakwah para wali sanga untuk mendakwahkan islam agar lebih mudah di terima serta dakwah wali sanga belum selesai. Ada juga mengatakan karena adanya bangsa Portugis dan belanda yang membawa misi salib dan pedang.
Sejarawan Belanda, Bernard H.M.Vlekke dalam “Nusantara :History of Indonesia “(1961) mengemukakan bahwa hal yang menarik mengapa orang jawa masuk islam adalah karena agama islam memiliki pemahaman dan praktek keagamaan yang bersahabat dengan tradisi lokal bukan karena dia suka agama islam. Namun adanya fleksibilitas yang tinggi ketimbang Kristen.
Meskipun begitu teramat sulit menerima dengan akal sehat bahkan mustahil jika dikatakan wali sanga mendiamkan pratek-praktek lokal yang penuh dengan khufarat dan kemusyrikan, karena wali sanga berasal dari luar jawa dan sangat paham dengan ilmu-ilmu agama dan segala larangannya. Menjadi pekerjaan rumah para ulama bangsa inilah sekarang untuk meluruskan upacara-upacara penuh kemusyrikan seperti tradisi Sekaten, Mauludan dan sebagainya agar kembali pada nilai-nilai islam yang bersih dan lurus, bukan malah memelihara kesesatan tersebut dan tanpa ilmu menyatakan islam agama yang penuh toleransi. Karena rasulullah SAW tidak pernah bersikap toleran pada kemusyrikan.

Tidak ada komentar: