Minggu, 15 Juni 2008

Akhlak Bunuh Diri

Siang yang terik di akhir Agustus 2007. Saya baru saja keluar dari rumah setelah sejak pagi berada di depan komputer. Saya teringat akan kata-kata Imam Ja’far as-Shadiq tentang cara memelihara kesehatan mata. Sering-seringlah anda melihat pemandagan alam, rerimbunan pohon, deburan ombak yang memecah karang, birunya langit serta pegunungan nun jauh di sana.
Dengan niat hendak keluar untuk kesehatan mata tiba2 ada kerumunan di tepi jalan raya. Sayapun mendekati dan ternyata tiga orang polisi tengah menggotong bukusan besar berwarna kuning yang berisi mayat. Seorang laki-laki hilang 15 hari yang lalu dan mati dengan cara bunuh diri.
Usia lelaki tersebut 35 thn dan memilki istri dan 3 orang anak. Muncul pertanyaan kenapa dia bunuh diri ? dan ternyata penyebabnya adalah faktor ekonomi. Sudah lama dia mencari-cari pekerjaan mulai dari bertani, berdagang dan semua usaha sudah dilakukannya namun hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan istri serta anak-anaknya. Istrinya tidak terima serta anaknya menangis kelaparan sementara tidak satupun dari kerabat dan tetangga-tetangganya memperhatikan keluarga tersebut.
Dari kematian laki2 tersebut maka banyaklah opini yang muncul diantaranya ada yang bilang ‘Laki-laki itu memang tidak mau bertanggung jawab”. Ada pula yang menyalahkan kerabat dan tetangganya, ada juga mengatakan ‘Bunuh diri itu haram apapun penyebabnya”. Ada juga yang berpendapat ”Salah sendiri laki-laki itu, sudah tdk menghasilkan uang kok malah nekat menikah ?”. Astagfirullah padahal nikah itu adalah fitrah seorang hamba, tidak perlu disalahkan .
Hati saya bergejolak . Bunuh diri memang tidak bisa dibenarkan oleh agama. Akan tetapi, cobalah anda merasakan seakan anda adalah lelaki tersebut. Anda sudah berusaha mencari pekerjaan mulai dari bertani, berdagang dan semua usaha sudah dilakukannya namun hasilnya tidak mencukupi. Anda sudah minta bantuan kemana-mana, anda sudah beribadah dan berdoa siang malam namun tdk jua hasil yang cukup.
Laki-laki tersebut tetap akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah S.W.T kelak di akhirat. Akan tetapi orang-orang dekat laki-laki tersebut (keluarganya, kerabat serta tetangganya) tentu tahu masalahnya akan digiring ke pengadilan akhirat jugaoleh sebab tidak tidak memberikan bantuan kepada laki-laki tersebut.
Sekarang mari kita serahkan urusan ini kepada Allah S.W.T, sebab dialah Sang Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya. Banyak saudara kita tercekik karena menahan lapar dan membiarkan mereka sama saja dengan membunuh mereka ! Tak ada bedanya antara dia yang bunuh diri dengan orang-orang yang menyebabkan hal itu terjadi.
Apakah kita bangga dgn di hadapan Allah dengan ibadah2 kita ?
Daripada kita mencaci, menhujat laki2 tadi lebih baik kita bermuhasabah. Siapa tau ibadah yang kita lakukan selama ini(shalat, puasa, zakat serta haji kita) tdk bernilai di hadapan Allah S.W.T ? maka dosa dan salah kita, biarlah diputuskan oleh Allah S.W.T yang menentukan kelak di pengadilan-Nya. Tidak perlu mendosa-dosakan dan menyalahkan orang lain. Sebab siapa tahu diri kita masih banyak dilumuri oelh dosa dan kesalahan, jangan ditambah lagi dengan menyalahkan sesama hamba-Nya.

Tidak ada komentar: