Minggu, 27 Juni 2010

Sayng.... Indonesia Kembali tanpa Gelar

Arya Perdhana - detiksport


Jakarta - Tuan rumah kembali harus gigit jari dalam turnamen Djarum Indonesia Open Super Series. Tidak ada satu pun pemain yang mengusung panji 'Merah Putih' yang berhasil jadi jawara.

Harapan terakhir Indonesia adalah Taufik Hidayat. Namun singelar berusia 29 tahun itu harus takluk dari juara bertahan Lee Chong Wei, 19-21, 8-21.

Sebelum Taufik, ada satu pemain Indonesia, Hendra Setiawan, yang bermain di ganda campuran bersama Anastasia Russkikh. Namun keduanya pun gagal di tangan duet Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba.

"Sebagai harapan, saya mohon maaf. Kepada rakyat Indonesia, kepada pencinta bulutangkis. Saya sudah maksimal. Lain kali mungkin jangan berharap kepada saya," komentar Taufik usai kekalahannnya.

Taufik benar. Di usianya yang sudah 28 tahun, seharusnya ia tidak sendirian mengemban nama Indonesia. Para pemain pelapis seperti Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso sudah harus tampil ke depan.

Tapi prestasi Sony dan Simon pun masih angin-anginan. Sony pekan lalu juara di Singapore Open, salah satunya dengan mengalahkan Chong Wei di semifinal, tapi di Jakarta justru ia yang takluk dari Chong Wei.

Simon pun setali tiga uang. Masih belum kuatnya mental Simon ditengarai menjadi penyebab kenapa di Indonesia Open kali ini ia sudah takluk dari Taufik di perempatfinal.

Tidak di tunggal putra, tidak pula di nomor-nomor lain. Ganda putra papan atas Markis Kido/Hendra Setiawan sudah tersisih di babak kedua dari pasangan Taiwan Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu yang akhirnya keluar sebagai juara.

Demikian pula dengan ganda campuran nomor satu dunia Nova Widianto/Lilyana Natsir. Beruntung Nova/Butet lebih baik daripada Markis/Hendra karena kalahnya di semifinal.

Di nomor ganda putri, prestasi terbaik justru diraih Vita Marissa saat berpasangan dengan Saralee Thoungthongkam dari Thailand dengan menjejak semifinal. Ganda putri lainnya? Maksimal perempatfinal.

Dari tunggal putri, Ana Rovita mencuri perhatian dengan lolos ke semifinal. Tapi Ana adalah pemain dari klub, sementara para pemain pelatnas sudah bertumbangan sebelumnya.

Melihat situasi itu, Taufik dan pelatihnya Mulyo Handoyo kembali menyerukan adanya evaluasi menyeluruh atas pencapaian para pebulutangkis Indonesia di turnamen-turnamen dunia.

"Saatnya PBSI melakukan evaluasi menyeluruh atas semuanya. Harus dicari mengapa bisa terjadi kegagalan ini. Saya yang dari luar cuma bisa memberi masukan," tandas Taufik.

( arp / arp )

Tidak ada komentar: