Rabu, 02 Juli 2008

PEMBICARAAN DUNIA

Seorang ibu berkata sambil menerawang,”UH, dia memang hebat ! usahanya lancar, duitnya banyak, dia sukses dan kaya sekarang.”Lalu, kepada anaknya si ibu ini berkata”Tuh, lihatlah dia. Kamu seharusnya bisa sukses seperti dia.Bisa menhasilkan uang banyak, usaha lancar, dan bisa sukses seperti dia. Bisa menghasilkan uang banyak, usaha lancar, dan bisa menyenangkan dan membahagiakan orang tua.” Kembali sang ibu itu berkata kepada dirinya sendiri, “kapan ya keluargaku bisa seperti keluarganya ?”
Wacana ini masih ada hubungan dengan penjernihan pada bab sebelumnya, yakni tentang bagaimana seharusnya anda memandang dan memperlakukan kesuksesan dan kekayaan hidup di dunia ini.
Dua belas tahun yang silam, saya menemukan diri saya masih tinggal di pelosok dusun yang terpencil. Sebenarnya tidak terpencil-pencil amat sih, sebab dusun yang saya tinggali ini cukup mudah dijangkau dari kecamatan. Letaknya tidak jauh dari kota kecamatan. Dan yang ingin saya ungkap di sini bukanlah tentang dusun tersebut, melainkan tentang sedikit dari kebiasaan sebagian warganya. Kebiasaan ini menyangkut kebiasaan berkata-kata dalam rangka mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran mereka.
Sering saya berkumpul-kumpul bersama warga dan mengikuti apa yang diperbincangkan oleh warga. Uang, materi dan pekerjaan adalah tiga tema yang sering dibicarakan oleh warga. Kalau ada yang tidak membicarakan hal ini hanyalah tiga orang yaitu pak Ustad Yazid, Haji Ridwan dan ayah saya.
Setelah dua belas tahun kemudian yakni hari ini , saya kembali ke dusun tersebut. Beberapa hari saya mendapatkan waktu untuk berkumpul-kumpul bersama warga lagi. Hari ini saya kembali mendengarkan pembicaraan warga lagi. Ternyata temanya tidak berubah dan tentu oleh generasi baru menggantikan generasi lama. Ayah saya, pak Ustad sudah berpulang ke pangkuan Allah S.W.T. Hanya haji Ridwan yang dulunya membangun spiritual masyarakat menjadi sedih karena semuanya usahanya gagal. Sebagian rumah sudah jadi bagus. Pembicaraan juga bertambah dengan membandingkan keluarga si anu dengan si anu. Fenomena baru muncul yaitu remaja semakin kehilangan rasa malu. Kebebasan seksual di jungjung tinggi dan dianggap manusiawi dan lumrah. Sementara kehidupan rumah tangga dirasakan seperti penjara. Silaturahmi disalahpahami. Sedekah dijadikan alat untuk menjual diri. Penyakit aneh muncul dan sulit dicarikan obatnya, susahnya mendapatkan air dan lain sebagainya. Pertanda apa semua ini ? inikah tahap awal dari akhir kehidupan semesta ? bilakah terjadi kiamat.
Mungkin sudah waktunya kiamat karena kehidupan sudah kembali ke dalam zaman jahiliyah. Akan tetapi berbahagialah orang-orang yang menjunjung tinggi akan pentingnya cahaya Ilahi. Berbahagialah orang-orang yang tidak melupakan ibadah-ibadahNya kepada Allah. Berbahagialah orang yang selalu memperbaiki dan mempengaruhi hubungan dengan Allah S.W.T.

Tidak ada komentar: