Rabu, 23 Juli 2008

Iman Adalah Obat Mujarab II

Aku memperhatikan ucapan dan endapat para ulama, sejarawan, dan para sastrawan islam, namun tidak pernah aku menemukan ucapan kegelisahan, kecemasan, dan gejala penyakit jiwa. Penyebabnya adalah mereka hidup sesuai ajaran agama yang diliputi rasa aman dan tenang. Kehidupan mereka jauh dari kompleksitas problem dan beban. ”Orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah kebenaran yang dating dari Tuhan mereka, maka Allah akan menghapus segala kesalahan mereka dan memperbaiki kondisi mereka(Qs.47:2)”.
Perhatikan ucapan Abu Hazim berikut :”Antara aku dan para raja sama-sama berada pada satu hari saja. Hari kemarin mereka sudah tidak dapat merasakan kelezatannya lagi; begitu pula aku. Sementara hari esok, baik aku maupun mereka, sama-sama tidak mengerti apa yang akan terjadi. Sesungguhnya hari inilah kehidupan yang sebenarnya, maka yang terpenting apa yang akan diperbuat pada hari ini !”.
Dalam sebuah hadist dikatakan: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini : kemudahan dalam mencari rizki yang halal dan baik, pertolongan, taufiq-Mu, dan ketetapan untuk mengikuti petunjuk-Mu.”
Tsabit Ibnu Zuhair yang bergelar ta’abbatha syarron,”sang pengepit keburukan” mengatakan:
“Seseorang tidak akan gagal selagi ia serius berusaha. Segala urusan yang sulit atau yang remeh dapat ditangani dengan baik. Orang yang memiliki prinsip adalah orang yang tidak hanya menerima perintah. Namun ia punya orientasi sendiri dan memiliki visi yang jelas. Itulah orang pilihan yang hidup bukan sebagai pecundang. Meski kesempatan telah tertutup baginya. Semangat di dalam dada akan tetap terus berkobar.”
Allah berfirman :”Wahai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kalian(Qs.4:71)”. “Hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan sekali-kali jangan menceritakan hal kalian kepada seorangpun.(Qs.18:9)”. Seorang penyair mengatakan :
“Meski hari silih berganti. Dengan segala kesulitan dan kemudahan yang ada didalamnya.Namun masih saja ada kesulitan hidup yang keras dan sulit untuk ditaklukkan, hingga hidup terasa hina dan tak menjadi indah dibuatnya. Namun tetap saja kami jalani segalanya dengan jiwa yang tenang. Kami mampu menanggung kehidupan berat yang sulit terpikulkan. Untung saja kami masih memiliki jiwa yang mampu bersabar hingga tujuan hidup dapat diwujudkan meski banyak orang yang tak berdaya menghadapinya”.

Bersambung ke III

Tidak ada komentar: